Radionya Ahlussunnah wal jama'ah

Klik disini untuk streaming via Android

Player Radio Da'i

Nidaul Irsyad

Pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam

Lima tahun berselang dari Hilf al Fudhul, tepatnya ketika Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam berusia 25 tahun, Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam menikahi Khadijah bintu Khuwailid Radhiallahu ‘an Haa , seorang janda terhormat, mulia dan kaya raya.

Khadijah Radhiallahu ‘an Haa sebelum menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah menikah dengan dua orang. Pertama dengan ‘Atiq bin A’idz al Makhzumi dan melahirkan seorang puteri. Setelah itu, ia menikah dengan Abu Haalah Hindun bin an Nabaasy at Tamimi. Dari pernikahan yang kedua ini melahirkan seorang anak lelaki bernama Hindun dan seorang anak perempuan. Abu Haalah meninggal di masa Jahiliyah.

Namun Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqaat menjelaskan, orang pertama yang menikahi Khadijah adalah Abu Haalah, yang bernama Hindun bin an Nabaasy bin Zurarah, lalu melahirkan seorang putra bernama Hindun, kemudian dinikahi oleh ‘Atiq bin ‘Abid bin ‘Abdulah al Makhzumi dan melahirkan seorang puteri bernama Hindun. Hindun ini, menikah dengan Shaifi bin Umaiyyah bin ‘Abdi bin Abdullah.

Pernikahan Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam dengan Khadijah Radhiallahu ‘an Haa  merupakan perkara yang pasti dan disepakati kaum Muslimin dengan dasar pernyataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘an Haa :

 

لَمْ يَتَزَوَّجْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَدِيجَةَ حَتَّى مَاتَتْ

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam tidak menikahi wanita lain atas Khadijah sampai Khadijah wafat.(HR Muslim).

 

Imam Ibnu Hajar  menyatakan, ini termasuk yang disepakati para ulama sejarah. Demikian juga pujian dan keutamaan Khadijah yang banyak disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam sebagai bukti kongkret jika Khadijah merupakan salah satu istri Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Bahkan sebagai istri yang pertama Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Diriwayatkan, Khadijah adalah seorang wanita terhormat, banyak  tokoh kaumnya yang ingin menikahinya. Ia banyak melakukan investasi dalam perdagangan dengan cara mudharabah. Hal inilah yang menjadi awal perkenalan Khadijah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Namun, riwayat-riwayat yang menjelaskan secara detail perkenalan dan usaha Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam mengelola dagangan Khadijah hingga pernikahannya, seluruhnya merupakan riwayat yang lemah walaupun sangat terkenal.

Dr. Akrom Dhiya’ al Umari menyatakan, riwayat-riwayat yang lemah –bahkan kebanyakan sangat lemah- menjelaskan secara detail berkenaan pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dengan Mmmul Mu’minin Khadijah bintu Khuwailid. Riwayat-riwayat ini menjelaskan awal perkenalan keduanya melalui kerja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam mengelola perdagangan Khadijah. Dia adalah orang kaya yang menginvestasikan hartanya.

Menurut Dr. Akrom Dhiya’ al Umari, walaupun maklumat-maklumat ini tidak shahih secara kaidah hadits, namun sangat terkenal di kalangan ahli sejarah.

Riwayat-riwayat yang lemah tersebut menjelaskan awal perkenalan keduanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bekerja mengelola perdagangan Khadijah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam membawa dagangan Khadijah dua kali ke kota Jursy -dekat kota Khomis Masyith- Yaman. Pernah juga ke Hubaasyah pasar Negeri Tuhamah dan Negeri Syam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam berangkat bersama budak laki-laki Khadijah yang bernama Maisarah.

Selama berinteraksi inilah, Maisarah melihat ketinggian dan kemuliaan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Sehingga ia menceritakan apa yang dilihatnya tersebut kepada Khadijah. Mendengar cerita Maisarah ini, serta merta Khadijah dibuat kagum oleh perilaku mulai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Lalu dia menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam sebagai suaminya.

Mendengar keinginan Khadijah, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bermusyawarah dengan para pamannya dan mereka pun menyetujuinya. Kemudian Beliau berangkat bersama Hamzah bin Abdil Muthalib untuk meminang Khadijah kepada orang tuanya. Dan Beliau menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor anak onta.

Diriwayatkan juga dalam riwayat yang lemah, bahwa yang diminta Khadijah untuk menyampaikan kesediaan beliau dipersunting Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam adalah teman dekatnya yang bernama Nafiisah bintu Maniyah, dan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi Wassallam menyetujuinya.

Para ulama berselisih pendapat yang menjadi wali dalam pernikahan tersebut. Ibnu Ishaaq menyatakan, yang menikahkan adalah Khuwalid bin Asad, bapak Khadijah. Sedangkan ulama lainnya menyatakan, menjadi walinya adalah pamannya yang bernama ‘Amru bin Asad. Ada juga yang menyatakan, walinya adalah saudaranya yang bernama ‘Amru bin Khuwailid. Yang rajih, insya Allah, adalah bapaknya sendiri yang menikahkannya.

Demikian juga terdapat perbedaan pendapat tentang usia Khadijah ketika menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Al Waaqidi  menyatakan, umurnya kala itu 40 tahun dan inilah yang terkenal secara umum. Namun Ibnu Ishaaq  menyatakan, usianya kala itu 28 tahun.

Memang tidak terdapat satu riwayat pun yang shahih tentang usia Khadijah ketika menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Namun melihat anak-anak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam yang dilahirkan Khadijah, yaitu berjumlah 6 orang, semuanya dilahirkan sebelum kenabian, kecuali ‘Abdullah. Tampaknya, pendapat Ibnu Ishaaq lebih kuat dari al Waaqidi, karena umumnya wanita pada usia di atas 40 tahun sudah mulai mendekati masa-masa menapouse (berhenti haidhnya). Dan Ibnu Ishaaq lebih kredibel dari Al Waqidi.

Begitu pula penulis kitab as Sirah ash Shahihah, tampaknya merajihkan pendapat Ibnu Ishaaq ini, walaupun yang mashur adalah pendapat al Waaqidi. Wallahu a’lam.

Beliau menikah dan tinggal menetap di rumah Khadijah dan memperoleh anugerah enam orang anak, lima anak lahir sebelum kenabian dan satu setelah kenabian. Mereka adalah al Qaasim (meninggal masih kecil), Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, ‘Abdullahyang lahir setelah kenabian dan dipanggil juga dengan panggilan ath Thahir atau ath Thayyib.

Seluruh anak laki-laki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam meninggal dunia ketika masih kecil, sedangkan puteri-puterinya berumur panjang mendapati kenabian dan masuk Islam, serta berhijrah bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam ke kota Madinah.

Demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan Khadijah membina keluarganya di rumah tersebut, sampai Khadijah meninggal di sana. Sepeninggal sang istri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam masih tetap menghuni rumah tersebut sampai berhijrah ke kota Madinah.

Dari kisah di atas kita dapat mengambil beberapa faidah.

  1. Keinginan Khadijah seorang wanita terhormat dan mulia memilih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam  sebagai suaminya, menunjukkan ketinggian dan kemulian akhlak Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam .
  2. Bukan satu kesalahan dan bukan hal yang memalukan, jika seorang wanita shalihah menampakkan keinginan menikah dengan seorang laki-laki yang shalih
  3. Khadijah memiliki keutamaan dan kedudukan terhormat di tengah kaumnya dan dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam , sehingga dia menjadi istri tercinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam .
  4. Pertemuan wanita terhormat yang menjaga harga diri dan martabatnya, dengan seorang yang terpercaya, berakhlak mulia dan pernikahan yang melahirkan anak-anak ini merupakan kemulian yang Allah anugerahkan kepada NabiNya agar memiliki kedudukan sosial dan nama baik di masyarakatnya.
  5. Pernikahan antara Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan Khadijah ini merupakan taqdir Allah dan pilihan Allah, agar dapat menjadi pendamping Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam , meringankan beban dan membantunya mengemban tugas berat dan mulia, yaitu menyampaikan ajaran ilahi kepada sekalian manusia. Ternyata, Khadijah benar-benar telah mengeluarkan hartanya seluruhnya dan menjadi orang pertama yang beriman kepada kerasulan beliau n dikala orang-orang mengingkarinya. Khadijah membenarkan apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam sampaikan dikala orang-orang mendustakannya. Sehingga beliau menjadi penghuni Surga, memiliki banyak keutamaan dan kedudukan yang tinggi.
  6. Kisah pernikahan ini menunjukkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam tidak terlalu memperhatikan kenikmatan jasad saja. Seandainya Beliau memperhatikan hal ini, tentunya akan memilih istri yang perawan dan lebih muda. Ini menunjukkan beliau menikahi Khadijah lantaran kehormatan dan keluhuran wanita yang dijuluki dengan al ‘Afifah ath Thahirah (Wanita terhormat dan suci).

     

    12]

Demikian mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

PERKARA HUTANG

Ada yang dikejar utang 6 Milyar? Karena sudah terlanjur dengan gaya hidup mewah? Coba renugkan nasihat dalam buletin berikut ini.

 

Ingat, Punya Utang itu “Gak Enak”

1- Berutang mengajarkan untuk mudah berbohong

Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah rahdiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di dalam shalat: ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari perbuatan dosa dan lilitan utang).” Lalu ada yang bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Jika orang yang berutang berucap, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.’” (HR. Bukhari, no. 2397 dan Muslim, no. 589)

2- Pahala jihad tidak bisa membayar utang

Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’i bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dalam sebuah khotbah di depan khalayak ramai. Kemudian beliau menyebutkan pada mereka bahwa jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah) dan beriman kepada Allah adalah sebaik-baiknya amalan. Kemudian ada seorang lelaki yang berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda jika saya terbunuh dalam jihad, apakah semua kesalahan saya akan dihapuskan?” Beliau menjawab, “Benar, jika kamu terbunuh fi sabilillah dalam keadaan sabar, mengharapkan pahala Allah, sedang maju, dan tidak lari mundur ke belakang.” Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang engkau katakan tadi?” Orang itu berkata lagi, “Bagaimana pendapat Anda jika saya terbunuh dalam jihad, apakah semua kesalahan saya akan dihapuskan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, jika kamu terbunuh fi sabilillah dalam keadaan sabar, mengharapkan pahala Allah, sedang maju, dan tidak lari mundur ke belakang. Kecuali kalau engkau memiliki utang. Sesungguhnya Jibril mengatakan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim, no. 1885)

3- Pada hari kiamat, kebaikan orang yang berutang akan diambil untuk melunasi utangnya

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (pada hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah, no. 2414. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

4- Masih bergantung sampai utangnya lunas

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1079 dan Ibnu Majah, no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)

 

Awali dengan Taubat dari Utang Riba

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri. Ia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu ia sangat sulit berdiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:278)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:278)

Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud di dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun orang yang menyetor riba (yang meminjam uang, yaitu nasabah).

Imam Asy-Syaukani juga berpendapat bahwa keadaannya seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itu seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan maka kita sebut ia sebagai “orang gila”. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1:499.)

Dalam ayat yang sama dilanjutkan,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), ‘Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.’” (QS. Al-Baqarah: 275)

Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli, sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Adapun riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil; ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, hlm. 47.)

Kelanjutan dari ayat yang sama,

فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lantas dia berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) maka dia termasuk penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Terakhir, ingat ancaman perang dari Allah dan Rasul-Nya bagi yang masih senang dengan riba,

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 279-281)

 

Cara Melunasi Utang

1-  Buatlah daftar dari semua utang Anda.

Buat semua daftar utang Anda. Daftar utang harus diurutkan dari yang terbesar ke yang terkecil. Jangan lupa mencantumkan suku bunga yang berlaku untuk tiap utang.

2- Hitunglah semua pemasukan yang dimiliki.

3- Prioritaskan pembayaran dan tutup utang yang tidak perlu.

  • Bayar utang yang terkecil terlebih dahulu.
  • Lunasi sehingga tidak menjadi beban lanjutan bagi Anda. Sementara itu, Anda bayar secara minimal untuk utang yang lebih besar.
  • Jika utang kecil dapat diselesaikan maka lanjutkan ke utang yang lebih besar.
  • Anda juga dapat menyelesaikan utang dengan bunga yang tinggi terlebih dahulu, baru yang berbunga rendah.
  • Para ahli juga merekomendasikan untuk membayar minimal dua kali pembayaran minimal sehingga utang Anda insyaallah akan selesai kurang dari tiga tahun.

4- Tutup (kartu) kredit yang tidak terpakai.

Jika Anda telah menyelesaikan utang Anda, Anda harus mengambil langkah tegas dengan menutup kartu kredit yang tidak perlu. Selain menghemat pengeluaran iuran tahunan, menutup kartu kredit tentunya akan mengurangi godaan untuk belanja secara berlebihan.

5- Jual aset untuk melunasi utang.

Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba ratusan juta. Namun saking berhasratnya untuk tetap memiliki harta melimpah, utang tersebut terus ditahan. Padahal jika tanah, rumah, atau kendaraan sebagai aset yang ia miiki dijual, maka semua utangnya akan lunas. Ingatlah, orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah. Sebaliknya, orang yang enggan lunasi padahal punya aset dan mampu melunasi, tentu akan jauh dari pertolongan Allah.

6- Tambah penghasilan selama tidak mengganggu kewajiban.

7- Hindari gali lubang tutup lubang.

Percayalah, menyelesaikan lubang dengan menggali lubang akan membuat kita makin pusing.

8- Jangan berutang lagi.

Kala utang Anda sunah lunas, lupakan untuk berutang lagi. Bayar setiap tagihan dengan tepat waktu.

 

Urgensi belajar fiqih

 

 

Oleh: Ustad Umeir Suharlan, Lc ( Alumni PIA angkatan ke-8 tahun 1999 )

Segala puji hanya milik Allah Rabb Pencipta alam semesta. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke hadirat nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari Kiamat.

Sesunguhnya mendalami ilmu agama termasuk di antara amal ibadah yang paling afdhal, dan dia merupakan tanda kebaikan pada seorang hamba. RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama…[1] Karena sesungguhnya dengan mendalami ilmu agama, seseorang dapat memperoleh ilmu bermanfaat yang dengannya dia menegakkan amalan yang shaleh yang sesuai dengan tuntuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama; dan cukuplah Allah sebagai saksi.”(QS. Al-Fath: 28).

Petunjuk yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan agama yang haq adalah amalan yang shaleh. Karena sesungguhnya syariat Islam mencakup dua perkara: Ilmu dan amal. Ilmu yang syar’i pasti benar, dan amal yang syar’i pasti diterima.[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memerintahkan nabi-Nya, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, agar memohon tambahan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaahaa: 114)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Sangat jelas menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Karena Allah Ta’ala tidak memerintahkan nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk meminta tambahan sesuatu apapun, kecuali ilmu.”[3]

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga telah menamakan majlis-majlis yang padanya diajarkan tentang ilmu yang bermanfaat dengan Riyaadh Al-Jannah (Yaitu taman-taman surga), juga mengabarkan bahwa para ulama adalah para pewaris nabi.

Tidak diragukan bahwa seseorang yang hendak mengerjakan suatu amalan haruslah mengetahui tatacaranya yang sesuai, agar amalan tersebut benar dan dikerjakan sesuai harapan yang dituju. Lalu bagaimana dengan orang yang hendak melaksanakan suatu amal ibadah untuk Rabbnya Azza wa Jalla, yang dengan ibadah itulah keselamatannya dari neraka dan masuknya dia ke dalam surga bergantung; bagaimana mungkin dia akan melaksanakan ibadah tersebut tanpa didasari ilmu?

Dari situlah orang-orang, dalam hal ilmu dan amal, berbeda menjadi tiga golongan:

Golongan pertama, orang-orang yang menggabungkan antara ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shaleh. Mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah oleh AllahTa’ala untuk meniti jalan yang lurus.

Golongan kedua, orang-orang yang mempelajari ilmu yang bermanfaat namun mereka enggan mengamalkannya. Mereka itulah orang-orang yang dimurkai oleh Allah Ta’aladari kalangan orang-orang Yahudi dan yang mengikuti langkah mereka.

Golongan ketiga, orang-orang yang beramal tanpa didasari ilmu. Mereka itulah orang-orang yang sesat dari kalangan orang-orang Nasrani dan yang mengikuti jejak mereka.

Ketiga golongan tersebut di atas terangkum di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’aladi dalam surat Al-Fatihah yang selalu kita baca di setiap raka’at shalat kita:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Faatihah: 6-7).

Al-Imam Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullah berkata, “Adapun firman Allah Ta’ala: “Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Maka yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang yang berilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya, dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang beramal tanpa didasari ilmu. Yang pertama adalah sifat kentalnya orang-orang Yahudi, dan yang kedua adalah sifat kentalnya orang-orang Nasrani.

Kebanyakan orang, apabila melihat di dalam kitab tafsir bahwa orang-orang Yahudi dimurkai dan orang-orang Nasrani sesat, mereka mengira bahwa kedua sifat tersebut hanya dikhususkan kepada kedua golongan itu. Padahal mereka tahu bahwa AllahTa’ala mewajibkan mereka agar memanjatkan doa tersebut dan berlindung supaya dijauhkan dari jalannya orang-orang tersebut.

Maka bagaimana mungkin Allah Ta’ala mengajarkan doa itu kepadanya bahkan mewajibkan agar selalu dipanjatkan setiap shalat, jika memang dia tidak diharuskan berhati-hati dari kedua sifat tersebut?!”[4]

Beliau menjelaskan kepada kita hikmah dari kewajiban membaca surat tersebut di setiap raka’at shalat, baik yang fardhu (wajib) maupun yang nafilah (sunnah). Yaitu bahwa surat tersebut mengandung banyak faedah yang agung, di antaranya adalah doa tersebut: Agar Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk meniti jalan orang-orang yang menghiasi dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shaleh, yang dia merupakan jalan keselamatan di dunia dan akhirat; juga agar Allah Ta’alamenjauhkan kita dari jalan orang-orang yang binasa yang menyia-nyiakan amalan yang shaleh atau ilmu yang bermanfaat.

Selanjutnya, kita harus benar-benar mengetahui bahwa ilmu yang bermanfaat hanya bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, yaitu dengan pemahaman, fikih, dan penelitian yang matang. Sambil kita memohon bantuan dari para ustadz, kitab-kitab tafsir, syarah-syarah hadits, kitab-kitab fikih, kitab-kitab nahwu dan bahasa Arab yang dengannya Al-Qur`an Al-Karim diturunkan. Karena sesungguhnya kitab-kitab tersebut adalah jalan untuk memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Jadi, agar amal ibadah kita sah dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita semua diwajibkan untuk mempelajari segala sesuatu yang dengannya agama kita dapat berdiri tegak; kita wajib mempelajari hukum-hukum shalat, hukum-hukum puasa, hukum-hukum zakat, dan hukum-hukum haji. Demikian juga kita harus mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalah sesuai dengan kebutuhan kita, agar kita dapat mengambil apa yang telah Allah Ta’ala bolehkan dan menjauhi apa yang telah Allah Ta’ala haramkan. Semua itu telah terangkum di dalam kitab-kitab fikih para ulamaRahimahumullah.

Semua hukum-hukum ibadah dan hukum-hukum muamalah sangat perlu kita pelajari, dan itu telah Allah Ta’ala mudahkan jalannya selama tekat dan keinginan kita benar.

Maka semangatlah dalam membaca kitab-kitab yang bermanfaat dan rajutlah hubungan dengan para ulama, agar kamu dapat bertanya kepada mereka tentang perkara yang rumit dan sulit dimengerti, juga agar kamu dapat menimba ilmu berkenaan dengan hukum-hukum agama.

Kita juga harus selalu rajin menghadiri kajian-kajian dan majlis-majlis ilmu, baik yang diadakan di masjid-masjid maupun di tempat-tempat lainnya. Manfaatkan waktu-waktu senggang untuk mendengar acara-acara keagaaman dari radio-radio yang menyebarkan dakwah yang haq, seperti radio Da’i FM, Suara Qur`an, Rodja, dan lain sebagainya. Luangkan waktu untuk menelaah kitab-kitab, majalah-majalah, dan buletin-buletin ilmiyah yang mengulas tentang permasalahan-permasalahan agama, yang telah dipercaya sandaran dan landasannya.

Apabila semua jalan di atas telah ditempuh dengan sesungguhnya, niscaya AllahSubhanahu wa Ta’ala akan membantu kita dalam memaksimalkan ilmu dan bashirahkita.

Juga jangan pernah kita lupakan, bahwa ilmu yang bermanfaat akan selalu berkembang dan tumbuh jika dibarengi dengan amal perbuatan. Apabila kitab mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tambahkan ilmu kita, sebagaimana disebutkan dalam suatu perkataan hikmah: “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya, niscaya Allah Ta’ala akan memberikan ilmu tentang sesuatu yang belum dia pelajari.” Itu dikuatkan oleh firman Alla Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282).

Akhir kata, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melapangkan dada kita untuk menyambut ilmu yang bermanfaat dan memberikan taufik kepada kita agar menghiasinya dengan amalan yang shaleh. Allahumma Amin…[5]

 


Catatan kaki    (↵ kembali ke teks)

  1. HR. Al-Bukhari nomor. 71. HR. Muslim nomor. 2387
  2. Tafsiir Al-Qur`an Al-‘Azhiim karya Abu Al-Fida` Isma’il bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyi: 7/360. Penerbit Daat Thaibah. Cetakan. II. Th. 1999-1420.
  3. Lihat kitab Fathu Al-Baarii: 1/187.
  4. Lihat kitab Taariikh Najd karya Ibnu Ghannam Rahimahullah: 491.
  5. Disarikan dari kitab Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi karya Syaikh Shaleh Alu FauzanHafizhahullah Ta’ala: 1/ 7-12.

Mengubur Budaya Nyontek

Oleh : Ust. Ibnu Ali

Takut menghadapi ujian mungkin merupakan sesuatu yang wajar, akan tetapi jika ketakutan tersebut mengantarkan seseorang menjadi nyontek ketika ujian, itu baru tidak wajar.

Apa itu nyontek?

Nyontek adalah membawa catatan khusus untuk dapat disalin ketika ujian atau meniru pekerjaan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan (curang). Tindakan nyontek hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah imannya, yang dirinya lupa bahwa Allah selalu mengawasinya.

Apakah nyontek itu dosa?

Ketika seorang siswa berniat untuk menyontek, tentu ia akan mencari cara bagaimana agar tidak ketahuan oleh sang pengawas. Saat posisi dan waktu telah dirasa aman, mulailah si siswa melakukan aksinya yaitu “menyontek” dengan perasaan dag dig dug takut kalau-kalau aksinya ketahuan oleh sang pengawas. Sungguh apa yang telah dilakukan oleh si siswa tadi sangat sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebajikan adalah bagusnya akhlak, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka apabila hal itu diketahui oleh orang lain.”(HR.Muslim, no 4633)

Nyontek itu sepele?

Kalaulah kita terima pendapat ini yaitu bahwa nyontek merupakan perbuatan yang sepele dan hanya merupakan dosa kecil, maka alangkah indahnya perkataan Ibnul Mu’taz :

خلِّ الذُّنوبَ صَغِيرَها          وكَبِيرَها فَهْوَ التُّقَى

 واصْنَعْ كماشٍ فَوْقَ أَرْ      ضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ ما يَرَى

لا تَحْقِرَنَّ صغيرةً             إنَّ الجِبَالَ مِنَ الحَصَى

Tinggalkanlah dosa baik yang kecil ataupun yang besar, maka itulah takwa… Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang berduri, tentu ia akan berhati-hati dari apa yang dilihatnya… Janganlah engkau meremehkan dosa-dosa kecil, karena gunungpun adalah dari kerikil…” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal 212. Cet Darul Aqidah)

Namun, jika kita cermati lebih dalam tentang perkara nyontek ini, ternyata nyontek adalah sebuah perkara yang sangat mengerikan dan dianggap besar di dalam Islam. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang berbuat curang, maka ia bukan termasuk golongan kita” (HR. Muslim, no 146).

 

Selanjutnya marilah kita dengar cerita yang disampaikan oleh salah seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan :

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفَقَالَأَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَوْ قَوْلُ الزُّورِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Suatu ketika kami berada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?”-beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali-. “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan bersaksi palsu atau berkata dusta.” Saat itu beliau bersandar kemudian beliau duduk. Beliau masih saja mengulang-ulang sabdanya sampai-sampai kami berkata kalau seandainya beliau diam. (HR. Muslim, no 126)

Mungkin dapat kita katakan bahwa nyontek termasuk salah satu perbuatan memberikan persaksian palsu. Bukankah orang yang nyontek sebenarnya tidak bisa menjawab soal-soal ujian? Bukankah nilai hasil ujian yang bagus sebetulnya tidak bisa diraih seandainya ia tidak nyontek? Bukankah ini berarti nilai-nilai yang ada di raport/transkip nilainya adalah nilai-nilai yang palsu? Sungguh ia telah memberikan kesaksian palsu kepada manusia yang membaca raport/transkip nilainya!

Jangan hancurkan harga dirimu!

Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda :

إِنَّ الصِّدْقَ بِرٌّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ فُجُورٌ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran adalah sebuah kebajikan, sedangkan kebajikan akan menuntun seseorang menuju surga. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk jujur sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Adapun sesungguhnya kedustaan adalah sebuah kekejian, sedangkan kekejian akan menuntun seseorang menuju neraka. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk dusta sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no 4720).

Maukah kita dicap oleh Allah sebagai seorang pendusta hanya gara-gara kita membiasakan diri untuk selalu menyontek ketika ujian? Sungguh betapa buruk gelar sebagai seorang pendusta!

Apabila seseorang pernah tertangkap basah menyontek, mungkin orang-orang disekitarnya akan menjadi ragu tentang kejujuran dirinya. Gerak-geriknya menjadi selalu diawasi karena khawatir ia akan melakukan sebuah kecurangan. Orang bertipe penyontek akan selalu berusaha mencari-cari kesempatan untuk berbuat curang demi keuntungan pribadinya.

Jangan lemah, berusaha dan mintalah pertolongan kepada Allah

Banyak faktor yang mendorong seseorang untuk nyontek; malas belajar, belum siap menghadapi ujian, ingin mendapatkan nilai yang tinggi dengan cara yang instan, ketakutan yang berlebihan jika gagal ujian, kurang pe de dengan kemampuan diri sendiri dan lain-lain.

Seorang muslim selayaknya mengambil sebab yang benar dan selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai hasil yang memuaskan. Dalam sebuah ayat, kita perhatikan bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan dan menyemangati kaum muslimin untuk mengambil sebab dan berusaha dengan sekuat tenaga dalam menghadapi pertempuran, Allah berfirman :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (Al-Anfal: 60)

Selanjutnya, seorang muslim tatkala ia berusaha untuk menggapai sesuatu yang diinginkannya hendaklah ia selalu memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan urusannya serta mendapatkan keberkahan dari Allah. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah dalam menggapai sesuatu yang memberimu manfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu merasa lemah. Apabila sesuatu (yang tidak menyenangkan)menimpamu, janganlah kamu mengatakan ‘seandainya tadi aku berbuat demikian, niscaya (hasilnya) adalah demikian dan demikian…’, akan tetapi ucapkanlah ‘semuanya telah ditakdirkan oleh Allah, dan setiap yang dikehendaki Allah pasti akan terlaksan’. Hal ini karena (kalimat) ‘seandainya’ membukapekerjaan syetan.”(HR. Muslim, no 4816)

Adapun sifat malas, tidak selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Hendaknya seorang muslim banyak membaca do’a yang telah diajarka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ

“Wahai Rabbku, aku berlindung kepadamu dari sifat malas.” (HSR. Abu Dawud, no 4409)

Renungan

Saudaraku….Sesungguhnya setiap apa yang kita lakukan, pasti diketahui oleh Allah Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui……Apakah layak bagi seorang muslim tatkala melakukan perbuatan kemaksiatan, ia merasa malu dan khawatir jika diketahui oleh orang lain namun dirinya seolah-olah melupakan Allah Yang Maha Mengetahui sehingga tidak merasa malu dan khawatir kepada-Nya ?

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ [٢:٧٧]

“Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui segala apa yang mereka sembunyikan dan yang mereka nyatakan?” (Al-Baqarah:77)

 

Saudaraku…..Mungkin, kadang hati ini terasa sangat berat untuk  menerima kebenaran, sangat susah untuk mempelajari ilmu…..Anggota badan terasa begitu mudah melakukan kemaksiatan….Demikian pula do’a terasa sangat susah untuk dikabulkan……

Pernahkah kita berfikir, barangkali hati dan anggota badan ini tumbuh dari makanan yang tidak berkah atau mengandung unsur yang haram?

Pernahkah kita berfikir, apakah ijazah dan transkip nilai yang dulu kita gunakan untuk mencari kerja betul-betul asli dan merupakan hasil usaha kita tanpa ada unsur kedustaan dari hasil nyontek?. Rasullullah shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya daging yang tumbuh dari usaha yang haram maka neraka lebih layak baginya.” (HR.Tirmidzi, no 558. Beliau berkata: Hadits Hasan Gharib)

Saudaraku…..Apakah seorang penuntut ilmu mampu diharapkan untuk istiqamah ketika berdakwah di tengah-tengah masyarakat, yang tentunya banyak kesulitan dan gannguan yang akan menghadangnya , padahal ia sendiri tidak mampu mengatasi kesulitan kecil pada dirinya ketika menghadapi ujian hingga dirinya nyontek? Allahul Musta’an……

 

Saudaraku……Etelah kita mengetahui betapa jeleknya perbuatan nyontek ini dan dulu kita pernah melakukannya, marilah kita tutup kejelekan tersebut dengan banyak berbuat kebajikan dan bertaubat kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita…

Allah berfirman :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik dapat menghapuskan kejelekan-kejelekan” (Hud: 114)

 

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ[٣٩:٥٣]

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Akhirnya kita berdoa, mudah-mudahan Allah menyadarkan sebagaian kaum muslimin yang masih memiliki kebiasan nyontek, mengampuni dosa-dosa mereka dan menjadika budaya nyontek terkubur dalam-dalam hingga tidak tercium lagi oleh kaum muslimin…..Amin

Ibnu Ali

Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, dosa kedua orang tua dan guru-gurunya

Catatan: Penomoran hadits didasarkan atas program Maktabah Syamilah