Antara Ucapan Selamat Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Hijriyah

oleh: Muhammad Nuril Huda

Andaikan bisa, inginnya mata ini tidak melihat maraknya spanduk-spanduk ucapa selamat tahun baru masehi dan natal yang bermunculan dijalan-jalan, demikian juga kartu-kartu ucapan dan hiasan-hiasan untuk merayakan satu paket syi’ar kekufuran kaum nasrani (tahu baru masehi dan natal). Andaikan bisa, tentu kita berharap semua itu tidak nongol di toko-toko buku, pusat-pusat perbelanjaan, di kantor pos dan ditengah-tengah masyarakat. Akan tetapi… hal tersebut merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri di zaman ini! Demikianlah keadaan banyak masyarakat kita, sebenarnya mereka sangat butuh akan dakwah.

 

Profesional Muslim, akankah kita hanya berdiam diri saja? Cuek tak hiraukan mereka? Akankah kita biarkan ada orang membocorkan kapal induk yang kita naiki? Kalla tsumma kalla!¹ Mari kita sebarkan dakwah, tebarkan air ilmu penyejuk hati! Berikan pencerahan kepada mereka, pahamkan tentang keindahan islam, sayangi mereka! Kasihi mereka!

 

Ajarkanlan dan kenalkan mereka tentang hak-hak Allah. Sampaikan bimbingan-bimbingan ulama rabbani umat ini dan perdengarkan peringatan-peringatan merekan yang penuh kasih sayang. Karena mereka (para Ulama) lah orang-orang yang telah Allah muliakan dengan ilmu dan amal ditengah-tengah umat ini.

 

Permisalan Ulama

Ketahuilah wahai sauadraku!

Permisalan Ulama di muka bumi ini ibarat bintang di langit

 

Ibnu Rajab -رحمه الله- menjelaskan tentang keberadaan Ulama yang dipermisalkan dengan bintang di langit tersebut, bahwa :

“Bintang memiliki tiga faedah, yaitu : diikuti dalam kegelapan, perhiasan langit, pelempar setan yang mencuri berita dari langit. Dan Ulama di muka bumi pun juga demikian, terkumpul pada diri mereka tiga sifat mirip seperti bintang, yaitu:

  1. Mereka diikuti dalam kegelapan (kebodohan dan kemaksiatan).
  2. Mereka adalah perhiasan dimuka bumi (menghiasinya dengan ilmu dan amal mereka).
  3. Dan mereka pelempar (membantah) setan yang mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan memasukkan ke dalam agama islam kotoran yang berasal dari pengikut hawa nafsu”

(dinukil dari Majmu’ur Rasaail Al-Hafidz ibni Rajab, Maktabah Islamiyyah)

Syamilah, http://sh.rewayat2.com/gwame3/Web/32689/001.htm

 

Selama Allah masih menjaga para Ulama Rabbani, maka cahaya petunjuk dan kebaikan pun akan tetap ada. Dan selama kaum muslimin mendengarkan nasehat dan fatwa ulama, maka kebaikan pun akan tetap tersebar ditengah umat ini. Mari kita simak petunjuk-petunjuk mereka! Simaklah, apa kata Ulama tentang hukum mengucapkan ucapan selamat untuk tahun baru hijriyah.

 

 

Fatwa Para Ulama

Sebelum kami bawakan penjelasan ulama tentang hal ini, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan “ucapan selamat” disini umum cakupannya, meliputi seluruh bentuk lafadz yang menggembirakan pendengarnya dan dikenal secara adat bahwa ucapan selamat yang baik. Pada asalnya kalimat ini bukanlah kalimat yang terlarang dalam syari’at.

 

Berikut penjelasan Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili -حفظه الله- ketika menjelaskan hukum ucaoan selamat tahun baru Hijriyah:

“Hukum ucapan selamat tahun baru (Hijriyah) di awal bulan ini (Muharram): tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya memberi ucapan selamat tahun baru (Hijriyah), sebagaimana pula tidak pernah dinukilkan satupun riwayat dari salafush shalih tentang hal ini. (Perlu diketahui), akhir-akhir ini marak tersebar ucapan selamat untuk menyambut tahun baru Hijriyah, yang diucapkan oleh sebagian orang: كل عام و انتم بخير (Semoga anda berada dalam kebaikan sepanjang tahun), sedangkan ulama berbeda pendapat dalam memandang hukumnya, (sebagai berikut):

 

  1. Sebaguan Ulama ada yang memandang bahwa ucapan selamat tahun baru Hijriyah ini adalah masalah adat kebiasaan masyarakat saja, tidak ada hubungannya dengan masalah syari’at, oleh akrena itu tidak bisa dikategorikan bid’ah.

Diantara Ulama yang berpendapat seperti ini adalah Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, dalam sebagian fatwa beliau. Oleh karena itulah, tidak mengapa (seseorang memberikan) ucapan selamat tahun baru Hijriyah (asalkan) tidak meyakininya sebagai sunnag. Sebagaimana selayaknya orang yang mendapatkan ucapan selamat كل عام و انتم بخير (Semoga Anda berada dalam kebaikan sepanjang tahun) mambelasnya dengan do’a : ‘ Semoga yang kita dapatkan tahun kebaikan dan barakah’ (Liqo’ul babil Maftuh :93, Kamis, 25 Dzul Hijjah 1415 H)

  1. Sebagian Ulama ada pula yang berpendapat, bahwa pemberian ucapan selamat tahun baru Hijriyah ini tidak pernah dikenalkan oleh Salafush Shalih, oleh karena itu tidak selayaknya mendahului mengucapkannya.

Adapun orang yang didahului diberi ucapan selamat : ’كل عام و انتم بخير’ (Semoga Anda berada dalam kebaikan sepanjang tahun), maka tidak mengapa ia membalasknya dengan ucapan: ‘ Semoga Andapun juga demikian’ atau ucapan yang semisal itu. Dengan pendapat inilah Syaikh Abdul Aziz bin Baz berfatwa dalam sebagian jawaban beliau tentang hukum memberi ucapan selamat tahun baru (Hijriyah). (Lihat website resmi Syaikh bin Baz)

  1. Sebagian Ulama yang lain ada yang berpendapat melarang pemberian ucapan selamat tahun baru Hijriyah, dan mengkatagorikannya sebagai sebuah kebid’ahan, karena tidak ada syari’atnya, disamping juga tidak ada dasar dari ucapan Salafush Shalih dan dikarenakan padanya terdapat bentuk tasyabbuh (menyerupai) kaum nasrani di dalam pemberian ucapan selamt tahun baru masehi.

Pendapat ini didasarkan pada pengkatagorian ucapan selamat tersebut ke dalam perkara ibadah yang tidak berdalil, maka ini termasuk bid’ah dan perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama isalm. Dengan pendapat ini Syaikh Shalih Al-Fauzan berfatwa dalam sebagian fatwa beliau (Lihat di website resmi Syaikh Shlaih Al-Fauzan).

 

 

 

Pendapat yang Rajih

Bahwa memberi ucapan selamat ketika mendapatkan kenikmatan baru, pada asalanya memang perkara adat kebiasaan semata, yang tidak diperintahkan atau tidak dilarang dalam Syari’at ini. Kemudian, sebenarnya seseorang, (jika memberi ucapan selamat tersebut) terkadang justru bisa mendapatkan pahala, hal ini ditinjau dari sisi bahwa ia menyenangkan hati seorang muslim.

 

Adapun jika pemberian ucapan selamat itu sudah dikaitkan dengan momen-momen tertentu, maka ini ada perinciannya, yaitu:

  • Jika ucapan selamat itu terkait dengan hari raya idul fitri dan adha, maka ada dasarnya dalam syari’at dan telah dinukilkan riwayat dari sebagian salaf yang memperkuat hal itu.
  • Adapun jika ucapan selamat itu terkait dengan perkara selain kedua hari raya tersebut, seperti awal tahun baru hijriyah, awal tahun ajawan baru, atau selesainya masa liburan sekolah, maka tentunya tidak disyari’atkan dalam agama islam ini. Jika demikian, hukumnya berkisar antara ‘boleh’ dan ‘bid’ah’.

Adapun ulama yang berpendapat boleh, beralasan kaerna hal ini termasuk perkara adat dalam pandangannya, tidak masuk dalam kategori bid’ah. Sedangkan ulama yang berpendapat bid’ah, alasannya karena ini termasuk perkara baru dalam beragama islam. Yang tidak pernah dikenal di zaman Nabi saw dan salafush shalih. Padahal pada waktu itu ada faktor pendorong untuk memberi ucapan selamat.

 

Dan pendapat yang melarang pemberian ucapan selamat itulah yang menenangkan jiwa (dan merupakan pendapat terkuat). Karena adanya beberapa alasan berikut ini:

  1. Jika pemberian ucapan selamat itu dilakukan secara terus-menerus, maka berarti ada unsur menyerupai ucapan selamat hari raya idul fitri dan adha, karena dalam definisi bid’ah desebutkan (oleh Ulama): “bid’ah adalah tata cara dalam beragama islam yang diada-adakan (baru) yang menyerupai syari’at adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala” (Al-I’thisham, As-Syathibi 1/37)
  2. Ada unsur tasyabbuh (menyerupai) kaum nasrani, yang sebagian mereka mengucapkan ucapan selamat tahun baru masehi kepada sebagian yang lainnya. Sedangkan hukum menyerupai (tasyabbuh) kaum Nasrani (dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka) adalah diharamkan dalam agama kita.
  3. Ketika pemberian ucapan selamat itu dilakukan secara terus-menerus dan tersebar kebiasaan tersebut di tengah-tengah masyarakat, dikhawatirkan ucapan selamat itu kelak, disangka termasuk perkara yang disyari’atkan dalam islam. Terkadang bisa sebagai perantara munculnya perayaan tahun baru hijriyah dan dijadikan sebuah hari raya yang dirayakan. Dan hal ini terlarang.
  4. Pemberian ucapan selamat tersebut jika ditinggalkan, maka termasuk langkah berhati-hati dalam agama islam, kerena jika suatu hukum berkisar diantara dugaan boleh atau bid’ah, maka langkah hati-hatinya adalah adalah dengan meninggalkannya. Karena seandainya pun kalau benar hukumnya boleh sekalipun, maka berhati-hati meninggalkannya pun, pada asalnya bukan hal yang terlarang, disamping itu akan mendapatkan (keuntungan) terhindarnya dari terjatuh dalam bid’ah. (keuntungan yang seperti ini tidak didapatkan) jika seseorang memilih pendapat bolehnya pemberian ucapan selamat tersebut.

Demikian penjelasan Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dikuitp dari http://www.al-rehaili.net/rehaili/index.php?page=article&action=article&article=23

 

Nah, jika ucapan “Selamat tahun baru hijriyah” saja ada ulama yang menyatakan keharamannya, diantaranya karena alasan tasyabbuh kaum nasrani dalam mengucapkan ucapan selamat tahun baru masehi, maka bagaimna lagi hukum mengucapkan selamat tahun baru masehi, yang jelas-jelas syi’ar agama nasrani itu sendiri?

 

Kalau ucapan “Sealamat tahun baru Hijriyah” saja ada Ulama yang menyatakan keharamannya, karena mengucapkan selamat tahun baru Masehi, yang jelas-jelas syi’ar agama nasrani tersebut?

 

Wallahu a’lam


¹) ungkapan dalam bahasa arab bahwa kita tidak akan pernah rela