Teladan dalam Menyikapi Ikhtilaf

 Oleh: Mahful Safarudin, Lc.

Sebuah Prolog

Lagi-lagi perbedaan dalam umat Islam itu sendiri agaknya susah untuk didamaikan. Sebagian lebih memilih mempertahankan keyakinannya walaupun dengan mengorbankan kesatuan umat. Dewasa ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat. Selain tantangan eksternal seperti perang pemikiran dan peradaban, tantangan internal juga ikut menggerayangi tubuh umat Islam. Bahkan tantangan dari dalam inilah yang sebenarnya sangat berbahaya. Maka serasa sangat penting sekali jika kita mencoba membuka mata dan pikiran kita lagi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Umat Islam sekarang harus pandai dalam menanggapi kondisi umat seperti ini, di tengah panasnya temperatur perang pemikiran dan musuh-musuh Islam yang berada dalam selimut. Untuk itulah tulisan ini mencoba memberikan pencerahan berpikir dalam menyikapi setiap perbedaan di kalangan para ulama khususnya dalam masalah–masalah fiqhiyah. Semoga Allah memudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

 

Sebuah Kisah Pengantar

Dikisahkan bahwa ketika khalifah Abu Ja’far Al-Manshur melakukan ibadah haji beliau sempat memanggil Imam Malik bin Anas dan meminta kepadanya untuk menyalin kitab yang ditulisnya yaitu kitab Al-Muwaththa’ menjadi beberapa buah untuk dikirim ke seluruh pelosok negeri muslim agar dijadikan sebagai buku pedoman hukum bagi seluruh kaum muslimin. Akan tetapi, Imam Malik secara diplomatis menjawab: ”Jangan Tuan lakukan itu, sebab sahabat Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam saja sudah berselisih dalam masalah furu’ (cabang-red). Lagi pula, umat Islam sudah tersebar di berbagai negeri, sedang sunah sudah sampai pada mereka, dan mereka juga punya imam yang diikuti. Mendengar jawaban seperti ini sang khalifah pun berkomentar: ”Semoga Allah memberi taufik kepadamu, wahai Abi Abdillah” (Lihat kisahnya secara lengkap di kitab (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih: 209-210, Al-Intiqa’: 45).

 

Perbedaan Pendapat Adalah Sebuah Keniscayaan

Sebuah perbedaan, apapun bentuknya; dari perbedaan warna kulit, bahasa, hingga perbedaan akidah atau keyakinan sekalipun, semua itu adalah sunah kauniyah yang telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas makhluknya. Dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (QS Huud 118-119).

Berkata Imam Al-Qurthubi rahimahulloh dalam tafsirnya (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an 9/114-115): “Perbedaan dan kemajemukan dalam syariat merupakan keadaan yang tidak bisa tidak dalam penciptaan makhluk, sehingga makna: Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka, maka ikhtilaf merupakan ‘illat (alasan) keberadaan wujud makhluk ini.”

Lebih jauh Imam Ghazali rahimahulloh menambahkan: “Bagaimana mungkin umat akan bersatu mendengarkan satu pendapat saja, padahal mereka telah ditetapkan sejak di alam azali bahwa mereka akan terus berbeda pendapat kecuali orang-orang yang dirahmati Allah (para Rasul ‘alaihimussalam), dan karena hikmah perbedaan itulah mereka diciptakan.” (Al-Qisthas al-Mustaqim, hal.61. Bagian dari kumpulan kitab-kitab Al-Qushur Al-Alawi min Rasa’il Al-Imam al-Ghazali, Maktabah Al-Jundi, Kairo).

Imam Abu Hayyan At-Tauhidi rahimahulloh menyatakan: “Tidak mungkin manusia berbeda pada bentuk lahir mereka lalu tidak berbeda dalam hal batin mereka, dan tidak sesuai pula dengan hikmah penciptaan mereka, jika sesuatu yang terus menerus membanyak sementara tidak berbeda-berbeda.” (Al-Imtina’ wa Al-Mu’assanah, juz 3, hal 99, Kairo [tahqiq Ahmad Amin dan Ahmad az-Zain]).

Kemajemukan dan perbedaan pendapat tersebut adalah motivator untuk menghadapi ujian serta untuk berkompetisi dan berkarya di antara masing-masing pihak yang berbeda pendapat tersebut, karena jika hanya satu umat saja maka tidak akan ada lagi motivasi untuk berlomba, yang merupakan tujuan dari penciptaan manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lainnya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Untuk tiap-tiap umat di antara kalian Kami berikan aturan dan jalan yang terang, sekiranya Allah menghendaki niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. Al-Maidah: 48).

Bahkan di kalangan non muslim pun Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyamaratakan mereka, sebagian mereka ada juga yang masih memiliki nilai-nilai kebaikan, sebagaimana firman-Nya:

لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِين

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali Imran: 113-114).

Bahkan dalam hal permusuhan mereka terhadap kaum muslimin, mereka juga dijadikan Allah subhanahu wa ta’ala Sang Maha Adil berbeda-beda, sebagaimana firman-Nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (QS. Al-Maidah: 82).

Namun, meskipun perbedaan adalah sebuah sunah kauniyah, bukan berarti kita tidak diperintahkan untuk berusaha menghindarinya. Ini sebagaimana ada pada kekufuran dan maksiat, yang tidak akan menimpa seseorang kecuali atas takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Meski demikian kita semua diperintahkan untuk menghindarinya, karena pada dua hal itu tetap saja mengandung unsur kehendak (irodah) dan pilihan manusia (al-ikhtiyar). Bahkan secara umum, para ulama menyatakan bahwa manusia wajib berusaha menghindari sunah kauniyah yang bersifat buruk (seperti maksiat atau kekufuran).

Sementara dalam dunia fikih terdapat sebuah ungkapan yang masyhur dari Imam Qotadah rahimahulloh yang berbunyi:

من لم يعرف الاختلاف لم يشم الفقه بأنفه

Barang siapa yang tidak mengenal adanya perbedaan pendapat, maka dia belum mencium fikih dengan hidungnya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Bahkan Imam Qubaishoh bin ‘Uqbah rahimahulloh berkata:

لا يفلح من لا يعرف اختلاف الناس

Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan pendapat di kalangan manusia.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Imam Sa’id bin ‘Arubah rahimahulloh juga berkata:

من لم يسمع الاختلاف فلا تعدوه عالما

Barang siapa yang belum pernah mendengar adanya perbedaan pendapat, maka janganlah kalian anggap dia sebagai seorang yang alim.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Oleh sebab itu ketidaktahuan seseorang akan adanya perbedaan pendapat acapkali menimbulkan sikap fanatik buta terhadap pendapatnya sendiri dan menolak setiap pendapat yang berbeda dengan pendapatnya. Padahal kemungkinan pendapat tersebut adalah benar dan didukung oleh dalil yang kuat. Imam Utsman bin ‘Atha’ rahimahulloh meriwayatkan dari ayahnya, beliau berkata:

لا ينبغي لأحد أن يفتي الناس حتى يكون عالما باختلاف الناس, فإنه إن لم يكن كدلك رد من العلم ما هو أوثق من الدي في يديه

Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk memberikan fatwa untuk manusia sehingga dia tahu betul akan perbedaan pendapat yang ada. Karena jikalau tidak demikian, maka dia akan menolak ilmu yang lebih kuat (dalilnya) daripada apa yang selama ini dia yakini.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Dan orang yang paling nekat dalam memberikan fatwa adalah orang yang tidak mengetahui perbedaan pendapat di antara manusia, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ayyub As-Sikhtiyani dan Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahumallah berikut ini:

أجسر الناس على الفتيا أقلهم علما باختلاف العلماء

Orang yang paling berani dalam memberikan fatwa adalah mereka yang paling sedikit pengetahuannya tentang perbedaan para ulama. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Ini adalah ungkapan-ungkapan yang tidak berlebihan dan cukup realistis. Jangankan antar mazhab, sering terjadi dalam satu mazhab terdapat dua atau lebih pendapat ulama tentang hukum suatu permasalahan. Sehingga di belakangnya ada ulama yang merasa terpanggil untuk menentukan mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat itu. Kelompok ulama ini lazim disebut sebagai mujtahid tarjih. Dalam mazhab Hanafi misalnya terdapat pendapat Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani. Ketiganya tak jarang terlibat dalam perbedaan pendapat dalam satu masalah. Demikian pula yang terdapat dalam mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sering dalam satu masalah dijumpai beberapa pendapat yang berbeda-beda, ada qaul yang dianggap masyhur dan syadz.

Melihat fakta seperti itu, kiranya bisa ditegaskan bahwa perbedaan pendapat pada umumnya, dan perbedaan dalam urusan fikih pada khususnya merupakan sebuah keniscayaan yang tidak perlu dan mustahil untuk dihilangkan. Perbedaan telah ada, saat ini juga, dan ke depan pun tentunya juga akan selalu ada.

 

Ucapan Sebagian Ulama Tentang Masalah Khilafiyah

  • *Al-Imam Abu Muhammad Ad-Darimi dalam sunannya menyebutkan: Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan: “Aku tidak suka kalau mereka (para ulama) tidak berikhtilaf (berbeda pendapat).” Kemudian Beliau mengirimkan (perintah) ke seluruh negeri-negeri, agar setiap kaum memutuskan (perkara) sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh para Fuqaha’ (ulama) mereka. (Sunan Ad-Darimi [wafat 255H / 869M], bab 52 Ikhtilaful Fuqaha, atsar nomor 641, Maktabah Syamilah).
  • *’Aun bin Abdillah berkata: “Aku tidak suka seandainya para sahabat Nabi tidak berikhtilaf (berbeda pendapat). Karena kalau mereka bersepakat atas sesuatu, lalu orang meninggalkannya, maka ia telah meninggalkan sunah. Tapi kalau mereka berikhtilaf (berbeda pendapat), dan orang mengambil pendapat salah seorang di antara mereka, ia tetap berpegang kepada sunah.” (Sunan Ad-Darimi [wafat 255H / 869M], bab 52 Ikhtilaful Fuqaha, atsar nomor 642, Maktabah Syamilah).
  • *Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa-nya menyebutkan: “Ada seorang yang menulis kitab tentang ikhtilaf, lalu Imam Ahmad mengatakan: “Jangan kamu beri nama Kitab Ikhtilaf, tapi berilah nama Kitab As-Sa’ah!
  • *Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan: “Aku tidak suka kalau para sahabat Nabi tidak berikhtilaf (berbeda pendapat). Karena apabila mereka bersepakat atas suatu pendapat, lalu ada orang yang menyelisihinya, tentulah orang tersebut tersesat. Namun, apabila mereka (para sahabat Nabi) berikhtilaf, lalu ada orang mengambil pendapat yang ini dan orang lain mengambil pendapat yang itu, tentulah dalam hal ini terdapat keluasan.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimyyah 7/250, Maktabah Syamilah).

 

Pelajaran dan Teladan dari Ulama Salaf dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat

Rasululloh shallallahu ’alaihi wa sallam, para sahabat dan para ulama salaf serta imam mazhab adalah generasi terbaik dalam hal kedalaman dan keluasan ilmunya, sekaligus generasi yang paling toleran dalam menghadapi perbedaan. Di bawah ini beberapa contoh penyikapan mereka terhadap perbedaan:

a. Rasululloh shollallahu ’alaihi wa sallam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat.

  •    Kalau kita buka lembaran siroh Rasululloh shallallahu ’alaihi wa sallam akan banyak kita dapati berbagai macam peristiwa yang menggambarkan kepada kita tentang perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan bagaimana beliau menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Kita akan mengambil sebagian saja sebagai bukti akan sikap toleran yang dicontohkan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, antara lain:
  • – Dalam kitab sahihnya, Imam Al-Bukhari rahimahulloh (hadits no. 4608) diceritakan bahwa Umar bin Khattab radliyallahu ’anhu pernah memarahi Hisyam bin Hakim radliyallahu ’anhu yang membaca Surat Al-Furqan dengan bacaan berbeda dari yang diajarkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Setelah Hisyam menerangkan bahwa Rasulullah shollallahu ’alaihi wa sallam sendiri yang mengajarkan bacaan itu, mereka berdua menghadap Rasulullah untuk meminta konfirmasi. Rasulullah membenarkan kedua sahabat beliau itu dan menjelaskan bahwa Al-Qur’an memang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan beberapa variasi bacaan (7 bacaan). Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: “Faqra’uu maa tayassara minhu (maka bacalah mana yang engkau anggap mudah daripadanya).”

Bisa kita lihat bagaimana Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidak menyalahkan kedua sahabatnya tersebut, meskipun mereka berdua telah berbeda pendapat.

  • – Al-Imam Al-Bukhari (hadits no. 894 & 3810) dan Al-Imam Muslim (hadits no. 3317)  rahimahumallah meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada peristiwa Ahzab: ”Janganlah ada satupun yang salat Asar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu Asar di tengah jalan, maka berkatalah sebagian mereka: “Kita tidak salat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita salat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.” Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak mencela salah satunya.”

Sekali lagi Nabi tidak mencela salah satu pihak yang berlawanan pendapat itu dengan kata-kata bidah, sesat, kafir, dan sebagainya. Beliau bahkan tidak mencela salah satunya. Masing-masing pihak punya argumen. Yang salat Asar di tengah jalan bukan ingkar kepada Nabi. Namun mereka mencoba salat di awal waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan RasulNya. Yang salat belakangan di perkampungan Bani Quraizah juga bukan melanggar perintah salat di awal waktu. Namun mereka mengikuti perintah Nabi di atas.

Dan masih banyak lagi contoh lainnya, ini hanya sebagian kecil dari teladan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi perbedaan pendapat secara toleran.

 

b. Para Sahabat radliyallahu ‘anhum dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan mereka.

  •    Ada beberapa contoh dari kehidupan para sahabat tentang bagaimana mereka menyikapi sebuah perbedaan, antara lain:
  • Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu (Nabi Muhammad).’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. ‘Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh Al-Qudus.’ Abu Hurairah lalu menjawab, ‘Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).’” (HR. Abu Dawud [4360] an-Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).”
  • Lihat saat Hassan Bin Tsabit sang penyair tengah melantunkan syair yang memuji-muji Allah dan RasulNya di Masjid sebelum waktu salat, Nabi Muhammad tidak melarang atau mencelanya. Beliau bahkan diam mendengarkannya.
  • – Saat berbeda pun dalam berpuasa di perjalanan para sahabat tidak saling cela. Ada yang berbuka, ada pula yang tetap berpuasa. Diriwayatkan dari Anas bin Maalik radliyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: “Kami sedang dalam keadaan safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa Ramadan dan di kalangan kami ada yang berpuasa, ada yang tidak berpuasa. Golongan yang berpuasa tidak menyalahkan orang yang tidak berpuasa dan golongan yang tidak berpuasa tidak menyalahkan orang yang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
  • – Al-Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya (Siyar A’lam Nubala’, 2/135-201) ketika menyebutkan biografi ummul mukminin ‘Aisyah radliyallahu ‘anha mengutip perkataan ‘Ali radliyallahu ‘anhu: “Dia (‘Aisyah) adalah kekasih Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Padahal kita tahu bagaimana perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka berdua radliyallahu ‘anhuma jamii’an.

 

c. Teladan dari para imam.

  1. 1. Al-Imam Yunus bin Abdul A’la Ash-Shadafi rahimahullah (salah seorang murid/sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata: ”Aku tidak mendapati orang yang lebih berakal (lebih cerdas) daripada Asy-Syafi’i. Suatu hari pernah aku berdiskusi (berdebat) dengan beliau, lalu kami berpisah. Setelah itu beliau menemuiku dan menggandeng tanganku seraya berkata : ”Hai Abu Musa! Tidakkah sepatutnya kita tetap bersaudara, meskipun kita tidak sependapat dalam satu masalah pun? (tentu di antara masalah-masalah ijtihadiyah).” (Siyaru A’lam An-Nubala’ : 10/16-17).
  2. 2. Khalifah Harun Ar-Rasyid rahimahullah berbekam lalu langsung mengimami salat tanpa berwudu lagi (mengikuti fatwa Imam Malik). Dan Imam Abu Yusuf rahimahullah (murid dan sahabat Abu Hanifah rahimahullah) pun ikut salat bermakmum di belakang beliau, padahal berdasarkan mazhab Hanafi, berbekam itu membatalkan wudu (Majmu Al-Fatawa : 20/364-366).
  3. 3. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa berbekam dan mimisan itu membatalkan wudu. Namun ketika beliau ditanya oleh seseorang, ”Bagaimana jika seorang imam tidak berwudu lagi (setelah berbekam atau mimisan), apakah aku boleh salat di belakangnya?” Imam Ahmad pun menjawab, ”Subhanallah! Apakah kamu tidak mau salat di belakang Imam Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah dan Imam Malik bin Anas rahimahullah?” (karena beliau berdualah yang berpendapat bahwa orang yang berbekam dan mimisan tidak perlu berwudu lagi). (Majmu’ Al-Fatawa : 20/364-366)..
  4. 4. Imam Abu Hanifah rahimahullah, sahabat-sahabat beliau, Imam Syafi’i, dan imam-imam yang lain, yang berpendapat wajib membaca basmalah sebagai ayat pertama dari surat Al-Fatihah, biasa salat bermakmum di belakang imam-imam salat di Kota Madinah yang bermazhab Maliki, padahal imam-imam salat itu tidak membaca basmalah sama sekali ketika membaca Al-Fatihah, baik pelan maupun keras. (Al-Inshaf lid-Dahlawi : 109).
  5.             5. Ketika terjadi perselisihan antara Hasan bin Al-Hasan dan sepupunya ’Ali bin Al-Husain, di mana Hasan mengejek dan menghina Ali, tapi Ali tetap saja diam. Di waktu sore Ali berkunjung ke rumah Hasan seraya berkata kepadanya: ”Wahai putera pamanku, jikalau apa yang kamu katakan tadi pagi itu benar, maka semoga saja Allah mengampuni dosaku, tapi jikalau apa yang kamu tadi katakan salah, maka semoga Allah mengampuni dosamu. Assalamu ’alaika.” (Siyar A’lam Nubala’ 4/386 – 401).

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Demikianlah kita dapatkan bahwasanya perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama salaf tidak sampai menjadikan mereka saling mengkafirkan, membidahkan, menyesatkan dan menyalahkan satu dengan lainnya.

Asy-Syaikh Shalih As-Sadlan hafidzahullah dalam kitabnya (Al-I’tilaf wal Ikhtilaaf, hal. 36) berkata: ”Pada zaman keemasan Islam (tiga generasi pilihan umat Islam, generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in-pent) perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihad tidak sampai berujung pada perpecahan.”

 

Wasiat Para Ulama untuk Bersikap Toleran dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat

  1. 1. Al-Imam Yahya bin Sa’id Al Anshari rahimahullah berkata: ”Para ulama adalah orang-orang yang memiliki kelapangan dada dan keleluasaan sikap, di mana para mufti selalu saja berbeda pendapat, sehingga (dalam masalah tertentu) ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan. Namun toh mereka tidak saling mencela satu sama lain.” (Tadzkiratul Huffadz : 1/139 dan Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih 393).
  2.   2. Ulama salaf (salah satunya adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata, ”Pendapatku, menurutku, adalah benar, tetapi ada kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain, menurutku, adalah salah, namun ada kemungkinan benar.”
  3. 3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : ”Seandainya setiap kali dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah itu saling menjauhi dan memusuhi, niscaya tidak akan tersisa sedikitpun ikatan ukhuwah di antara kaum muslimin.” (Majmu’ Al-Fatawa : 24/173).
  4. 4. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, ”Dalam masalah-masalah yang diperselisihkan di antara para ulama fikih, aku tidak pernah melarang seorang pun di antara saudara-saudaraku untuk mengambil salah satu pendapat yang ada.” (Al-Faqih wal Mutafaqqih : 2/69).
  5. 5. Diceritakan dari Imam Abu Ya’la Al-Farra’ Al-Hambali rahimahullah bahwa, pernah ada seorang ulama fikih yang datang kepada beliau untuk belajar dan membaca kitab fikih berdasarkan mazhab Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau (Imam Abu Ya’la rahimahullah) bertanya tentang negeri asalnya, dan ia pun memberitahukannya kepada beliau. Maka beliau berkata kepadanya: Sesungguhnya penduduk negerimu seluruhnya mengikuti mazhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, lalu mengapakah engkau meninggalkannya dan ingin beralih ke mazhab kami? Ia menjawab: Saya meninggalkan mazhab itu karena saya senang dan tertarik denganmu. Selanjutnya Imam Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Ini tidak dibenarkan. Karena jika engkau di negerimu bermazhab dengan mazhab Imam Ahmad rahimahullah, sedangkan seluruh masyarakat di sana mengikuti mazhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang pun yang beribadah (dalam mazhab Ahmad rahimahullah) bersamamu, dan tidak pula yang belajar denganmu. Bahkan sangat mungkin justru engkau akan membangkitkan permusuhan dan menimbulkan pertentangan. Maka statusmu tetap berada dalam mazhab Asy-Syafi’i rahimahullah seperti penduduk negerimu adalah lebih utama dan lebih baik.” (Al-Muswaddah Fi Ushulil fikihi Li Aali Taimiyah hal. 483).

10 Sikap Bijak Dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat

Khilaf (perbedaan pendapat) di mana pun selalu ada. Di mana pun dan sampai kapan pun. Jika tidak disikapi dengan tepat dan bijaksana, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan perpecahan, permusuhan, dan bahkan kehancuran. Karena itu, Islam memberi arahan bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat di antara kita semua. Di bawah ini beberapa rambu-rambu yang hendaknya diperhatikan setiap muslim dalam menyikapi sebuah perbedaan pendapat:

  1. 1. Membekali diri dan mendasari sikap sebaik-baiknya dengan ilmu, iman, amal dan akhlaq secara proporsional. Karena tanpa pemaduan itu semua, akan sangat sulit sekali bagi seseorang untuk bisa menyikapi setiap masalah dengan benar, tepat dan proporsional, apalagi jika itu masalah ikhtilaf atau khilafiyah.
  2. 2. Memfokuskan dan lebih memprioritaskan perhatian dan kepedulian terhadap masalah-masalah besar umat, daripada perhatian terhadap masalah-masalah kecil seperti masalah-masalah khilafiyah misalnya. Tetap mengutamakan dan mengedepankan masalah-masalah prinsip yang telah disepakati atas masalah-masalah furu’ yang diperselisihkan. Atau dengan kata lain, kita wajib selalu mengutamakan dan mendahulukan masalah-masalah ijma’ atas masalah-masalah khilafiyah.
  3. 3. Memahami ikhtilaf dengan benar, mengakui dan menerimanya sebagai bagian dari rahmat Allah bagi umat. Dan ini adalah salah satu bagian dari ittibaa’us-salaf (mengikuti ulama salaf), karena memang begitulah sikap mereka, yang kemudian diikuti dan dilanjutkan oleh para ulama ahlus-sunah wal jama’ah sepanjang sejarah.
  4. 4. Memadukan dalam mewarisi ikhtilaf para ulama terdahulu dengan sekaligus mewarisi etika dan sikap mereka dalam berikhtilaf. Sehingga dengan begitu kita bisa memiliki sikap yang tawazun (proporsional). Sementara selama ini sikap kebanyakan kaum muslimin dalam masalah-masalah khilafiyah, seringkali lebih dominan timpangnya. Karena biasanya mereka hanya mewarisi materi-materi khilafiyah para imam terdahulu, dan tidak sekaligus mewarisi cara, adab dan etika mereka dalam berikhtilaf, serta dalam menyikapi para mukhalif (kelompok lain yang berbeda mazhab atau pendapat).
  5. 5. Mengikuti pendapat (ittiba’) ulama dengan mengetahui dalilnya, atau memilih pendapat yang rajih (kuat) setelah mengkaji dan membandingkan berdasarkan metodologi (manhaj) ilmiah yang diakui. Tentu saja ini bagi yang mampu, baik dari kalangan para ulama maupun para thullaabul-’ilmisy-syar’i (para penuntut ilmu syar’i). Sedangkan untuk kaum muslimin kebanyakan yang awam, maka batas kemampuan mereka hanyalah ber-taqlid (mengikuti tanpa tahu dalil) saja pada para imam terpercaya atau ulama yang diakui kredibilitas dan kapabilitasnya. Yang penting dalam ber-taqlid pada siapa saja yang dipilih, mereka melakukannya dengan tulus dan ikhlas, serta tidak berdasarkan hawa nafsu.
  6. 6. Untuk praktek pribadi, dan dalam masalah-masalah yang bisa bersifat personal individual, maka masing-masing berhak untuk mengikuti dan memgamalkan pendapat atau mazhab yang rajih (yang kuat) menurut pilihannya. Meskipun dalam beberapa hal dan kondisi sangat afdhal pula jika ia memilih sikap yang lebih berhati-hati (ihtiyath) dalam rangka menghindari ikhtilaf (sesuai dengan kaidah ”al-khuruj minal khilaf mustahabb” – keluar dari wilayah khilaf adalah sangat dianjurkan). Sementara itu terhadap orang lain atau dalam hal-hal yang terkait dengan kemaslahatan umum, sangat diutamakan setiap kita memilih sikap melonggarkan dan bertoleransi (tausi’ah & tasamuh). Atau dengan kata lain, jika kaidah dan sikap dasar dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat personal individual, adalah melaksanakan yang rajih menurut pilihan masing-masing kita. Maka kaidah dan sikap dasar dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat kebersamaan, kemasyarakatan, kejamaahan dan keumatan, adalah dengan mengedepankan sikap toleransi dan kompromi, termasuk sampai pada tahap kesiapan untuk mengikuti dan melaksanakan pendapat atau mazhab lain yang marjuh (yang lemah) sekalipun menurut kita.
  7. 7. Menghindari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) atau tatharruf (ekstrem), misalnya dengan memiliki sikap mutlak-mutlakan (truth claim) dalam masalah-masalah furu’ khilafiyah ijtihadiyah. Karena itu adalah sikap yang tidak logis, tidak islami dan tidak sesuai dengan syariat.
  8. 8. Menjadikan masalah-masalah ushul (prinsip) yang disepakati (masalah-masalah ijma’) –dan bukan masalah-masalah furu’ ijtihadiyah (masalah-masalah khilafiyah)– sebagai standar dan parameter komitmen dan keistikamahan seorang muslim.
  9. 9. Menjaga agar ikhtilaf dalam masalah-masalah furu’ ijtihadiyah tetap berada di wilayah wacana pemikiran dan wawasan keilmuan, dan tidak masuk ke wilayah hati, sehingga berubah menjadi perselisihan perpecahan (ikhtilafut-tafarruq), yang akan merusak ukhuwah dan melemahkan tsiqoh (rasa kepercayaan) di antara sesama kaum mukminin.
  10. 10. Menyikapi orang lain, kelompok lain atau penganut mazhab lain sesuai kaidah berikut ini:

 

Perlakukan dan sikapilah orang lain, kelompok lain dan penganut mazhab lain sebagaimana engkau, kelompok dan mazhabmu ingin diperlakukan dan disikapi! Serta janganlah memperlakukan dan menyikapi orang lain, kelompok lain dan pengikut mazhab lain dengan perlakuan dan penyikapan yang tidak engkau inginkan dan tidak engkau sukai untuk dirimu, kelompokmu atau mazhabmu!”

 

Penutup

Telah terang atas kita rambu-rambu dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama khususnya dalam masalah fikih. Yang tak kalah pentingnya bahwa kita hendaknya selalu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar ditunjuki kepada kebenaran pada perkara yang diperselisihkan. Kita yakin bahwa kita lemah dalam segala sisinya. Hawa nafsu sering kita kedepankan sehingga jalan kebenaran seolah tertutup di hadapan kita. Kita menghormati para pendahulu kita yang telah mendahului kita dalam iman dan amal serta mendoakan kebaikan untuk mereka.

Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan dan janganlah Engkau jadikan pada hati-hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10). Wallahu a’lam.

 

Referensi

-DEPAG RI. Al-Qur’an Al-Karim beserta Terjemahnya.

-Ahmad ibn Hanbal. Musnad Imam Ahmad. (Maktabah Syamilah).

-Al-Bukhari. Shohih Al-Bukhari. (Maktabah Syamilah).

-Muslim. Shohih Muslim. (Maktabah Syamilah).

-Abu Dawud. Sunan Abu Dawud. (Maktabah Syamilah).

-An-Nasa’i, Sunan An-Nasa’i. (Maktabah Syamilah).

-Adz-Dzahabi. Tadzkiratul Huffadz. (Maktabah Syamilah).

-Adz-Dzahabi. Siyaru A’lam An-Nubala. (Maktabah Syamilah).

-Ad-Darimi, Abdullah bin Abdurrahman. Sunan Ad-Darimi. (Maktabah Syamilah).

-Ali Ibn Taimiyah. Muswaddah Fi Ushulil fikihi. (Maktabah Syamilah).

-Ad-Dahlawi. Al-Inshaf . (Maktabah Syamilah).

-Al-Khathib Al-Baghdadi. Al-Faqih wal Mutafaqqih. (Maktabah Syamilah).

-Ibn Abdil Barr. Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih. (Maktabah Syamilah).

-Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah. Majmu Fatawa. (Maktabah Syamilah).