Hukum Memakai Cadar bagi Wanita Musliman dalam Pandangan 4 Mazhab

Oleh: Suharlan Madi Ahya, Lc.

 

            Seringkali wanita bercadar diidentikkan dengan orang Arab atau orang Timur Tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis sahih, penerapan para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya Timur Tengah.

Di bawah ini kami bawakan pendapat-pendapat para ulama mazhab, tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fikih empat mazhab. Lebih lagi, ulama empat mazhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama mazhab.

 

Mazhab Hanafi

            Pendapat mazhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

* Hasan bin Ammar bin Ali Asy-Syaranbalaali Al-Hanafi berkata di dalam Maraaqii Al-Falaah Syarh Matan Nuur Al-Iidhaah, 91:

“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan bagian dalam dan luar. Itu pendapat yang lebih sahih dan merupakan pilihan mazhab kami.”

 

* Muhammad Amin bin Umar bin Abdil Aziz Abidin Ad-Dimasyqi Al-Hanafi di dalam Radd Al-Muhtar ‘Ala Ad-Durr Al-Mukhtar, 2/528:

“Aurat wanita dalam salat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan.”

“Dilarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, sehingga timbullah fitnah. Karena jika wajah ditampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat.” (Radd Al-Muhtar ‘Ala Ad-Durr Al-Mukhtar, 1/406).

 

* Abdurrahman bin Muhammad bin Sulaiman Damad Afandi Al-Hanafi berkata di dalam Majma’ Al-Anhur Fii Syarh Multaqaa Al-Abhur, 1/81:

“Wanita muda dilarang untuk menampakkan wajahnya agar tidak menimbulkan fitnah. Sedangkan di zaman kita sekarang ini wajib dilarang, bahkan fardu karena seringkali menimbulkan kerusakan.”

 

* Zainuddin bin Ibrahim bin Muhammad Ibnu Najim Al-Mishri Al-Hanafi berkata di dalam Al-Bahr Ar-Raa`iq Syarh Kanz Ad-Daqaa`iq, 1/284:

“Para ulama mazhab kami berkata bahwa wanita muda dilarang untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah.”

Beliau berkata demikian di zaman beliau, yang mana beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

 

Mazhab Maliki

            Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

* Abu Al-Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Khaluti Ash-Shawi Al-Maliki di dalam Bulghah As-Saalik Li Aqrab Al-Masaalik, 1/288:

“Aurat wanita di hadapan lelaki ajnabi, yaitu lelaki yang bukan mahramnya, adalah seluruh tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan. Wajah dan kedua telapak tangannya bukanlah aurat meskipun dia wajib menutupinya lantaran khawatir timbul fitnah.”

 

* Al-Qadhi Muhammad bin Abdillah Abu Bakar bin Al-Arabi Al-Maliki berkata di dalam Ahkaam Al-Qur`aan, 3/616:

“Seluruh bagian wanita adalah aurat. Baik tubuhnya maupun suaranya. Sehingga tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan penyakit yang ada pada tubuhnya, atau ketika dipertanyakan apakah dia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan).”

 

* Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farah Al-Anshari Al-Qurthubi Al-Maliki berkata di dalam Al-Jaami` Li Ahkaam Al-Qur`aan, 12/229:

“Ibnu Khuwaiz Mandad, dari kalangan ulama kami (yaitu ulama besar Maliki) berkata, “Jika wanita itu cantik dan khawatir wajah dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, maka dia wajib menutupnya. Jika dia wanita tua atau wajahnya jelek, maka dia boleh menampakkan wajah dan kedua telapaknya.”

 

* Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdirrahmah Ath-Tharablusi Al-Maghribi Al-Haththab Al-Maliki berkata di dalam Mawaahib Al-Jaliil Fii Syarh Mukhtashar Khaliil, 1/499:

“Ketahuilah, apabila dikhawatirkan terjadi fitnah dari seorang wanita, maka dia wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Itu dikatakan oleh Al-Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Itulah pendapat yang lebih tepat.”

 

Mazhab Syafi’i

Indonesia menganut pemahaman Syafi’iyah, demikianlah yang sudah kita ketahui bersama. Di kalangan masyarakat kita, cadar (penutup wajah bagi wanita) sering dianggap suatu yang aneh. Namun tidak demikian kata ulama Syafi’iyah yang tersohor. Sehingga sungguh sangat aneh jika ada kalangan Syafi’iyah yang memandang cadar itu adalah istrinya teroris, bahkan sampai dikatakan “ninja” dengan maksud mengejek. Padahal ulama Syafi’iyah telah menyatakan disyariatkan mengenakan penutup wajah atau cadar bagi wanita muslimah. Pendapat mazhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki yang bukan mahramnya adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki yang bukan mahramnya. Itulah pendapat mu’tamad dalam mazhab Syafi’i.

* Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalaani Asy-Syafi’i berkata di dalam Fath Al-Baari, 9/337:

“Wanita boleh keluar ke masjid, pasar, dan safar namun dengan menutup wajah agar para lelaki tidak melihat mereka. Sedangkan laki-laki sama sekali tidak diperintahkan untuk ber-niqob (memakai penutup wajah) agar wanita tidak melihat mereka. Oleh karena itu dari masa ke masa, para lelaki selalu terbuka wajahnya (tidak memakai penutup wajah) sedangkan kaum wanita selalu keluar (rumah) dalam keadaan wajahnya tertutup.”

 

* Jalaluddin bin Muhammad Al-Mahalli Asy-Syafi’i dan Jalaluddin bin Abi Bakar As-Suyuthi Asy-Syafi’i ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31 berkata, “Yaitu wajah dan kedua telapak tangan, keduanya boleh dilihat oleh lelaki asing jika tidak takut terjadi fitnah; pada satu pendapat. Pendapat kedua, diharamkan terlihat (wajah dan telapak tangan) karena dapat mengundang fitnah. Pendapat itu dikuatkan untuk memutus pintu fitnah itu.” (Tafsir Al-Jalaalain, 462). Dan ketika menafsirkan surat Al-Ahzaab ayat 59, keduanya berkata, “Jilbab adalah pakaian besar yang menutupi wanita. Mereka diberi keringanan untuk menampakkan satu mata saja ketika keluar (rumah) untuk suatu kebutuhan. Seperti itu lebih mudah dikenal sebagai orang merdeka, beda halnya dengan budak (yang wajahnya terbuka). Oleh karenanya janganlah wanita yang menutup rapat auratnya disakiti, dia sungguh jauh berbeda dengan budak perempuan yang membuka wajahnya. Orang-orang munafik dahulu biasa menyindir (mengganggu) wanita yang menutup auratnya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu karena enggan menutup aurat. Allah menyayangi kalian sehingga memerintah kalian untuk menutup aurat.” (Tafsir Al-Jalaalain, 560).

 

* Jalaluddin bin Abi Bakar As-Suyuthi Asy-Syafi’i berkata di dalam Al-Ikliil Fii Istinbaat At-Tanziil, 214 ketika menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 59:

“Ini adalah ayat hijab bagi seluruh kaum wanita. Di dalamnya dijelaskan bahwa mereka diwajibkan menutup kepala dan wajah. Namun hal itu tidak diwajibkan bagi budak wanita.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkenaan dengan ayat tersebut, dia berkata, “Allah telah memerintahkan para wanita yang beriman jika mereka hendak keluar untuk suatu kebutuhan agar menutup kepalanya dengan jilbab dan menampakkan satu mata saja.”

 

* Abdul Hamid Asy Syarwani Asy-Syafi’i berkata di dalam Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112:

“Wanita memiliki tiga jenis aurat; 1. Aurat dalam salat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. 2. Aurat terhadap pandangan lelaki yang bukan mahramnya, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad. 3. Aurat ketika bersendirian dan bersama para lelaki yang mahram, sama seperti aurat laki-laki.” Yaitu antara pusar dan lutut.

 

* Sulaiman bin Umar bin Manshur Al-Jamal Al-Azhari Asy-Syafi’i berkata di dalam Futuuhaat Al-Wahhab Bi Taudhiih Syarh Minhaaj Ath-Thullaab, 1/411:

“Maksud perkataan An-Nawawi, aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan, adalah aurat di dalam salat. Adapun aurat wanita di hadapan para wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang mahram adalah antara pusar hingga lutut. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh tubuh.”

 

* Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazzi Asy-Syafi’i berkata di dalam Fath Al-Qaarib, 84:

“Seluruh tubuh wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Itu aurat di dalam salat. Adapun di luar salat, maka aurat wanita adalah seluruh tubuhnya.”

* Ibnu Qasim Al-‘Abaadi Asy-Syafi’i berkata di dalam Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115:

“Wanita wajib menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun dia seorang budak. Kewajiban menutup wajah dan telapak tangan bukan karena keduanya adalah aurat, melainkan keduanya seringkali menimbulkan fitnah.”

 

* Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Mu`min Al-Husaini Al-Hushni Asy-Syafi’i berkata di dalam Kifaayah Al-Akhyaar, 93:

“Makruh hukumnya salat dengan memakai pakaian yang ada gambar atau lukisan. Juga makruh wanita memakai niqab (cadar) ketika salat, kecuali jika dia berada di dalam masjid yang kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya. Jika dikhawatirkan wanita itu dipandang oleh lelaki yang bukan mahram hingga menimbulkan kerusakan, maka haram hukumnya melepaskan niqab (cadar) tersebut.”

 

Mazhab Hanbali

* Imam Ahmad bin Hanbal berkata di dalam Ahkaam An-Nisaa`, 31:

“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya.”

 

* Muhammad bin Muflih bin Mufrij Al-Maqdisi Al-Hanbali berkata di dalam Al-Furu’, 2/458 menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal:

“Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut, yaitu janganlah wanita menampakkan perhiasannya kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat.‘” Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau: “Kuku wanita termasuk aurat. Jadi, apabila dia hendak keluar, dia tidak boleh menampakkan apapun bahkan sepatu khuf-nya, karena sepatu khuf itu masih dapat menampakkan lekuk kakinya. Aku lebih suka jika dia membuat semacam kancing di bagian tangan.”

 

* Manshur bin Yunus bin Idris Al-Bahuti Al-Hanbali, ketika menjelaskan matan Al-Iqnaa’, dia berkata:

“Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah wanita yang balig adalah aurat di luar salat karena adanya pandangan, sama seperti anggota tubuh lainnya.” (Kasysyaaf Al-Qinaa’ ‘An Matan Al-Iqnaa’, 1/266)

 

Cadar Adalah Budaya Islam

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai jilbab dan cadar bukanlah sekedar budaya Timur Tengah, bahkan dia merupakan budaya dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat Timur Tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat Timur Tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya seorang muslim berbudaya dengan budaya Islam.

 

Di antara bukti lain bahwa jilbab dan cadar adalah budaya dan ajaran Islam:

  1. Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat Arab jahiliah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan tabarruj. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliah terdahulu” (QS. Al-Ahzab: 33)

Sedangkan, yang disebut dengan jahiliah di sini adalah masa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam belum diutus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk tersebut dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa jilbab dan hijab adalah budaya yang berasal dari Islam.

  1. Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka. Aisyah Radhiyallahu Anha berkata:

“Wanita-wanita kaum Muhajirin, ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An-Nuur: 31), mereka merobek sarung-sarung mereka lalu mereka menggunakannya untuk berkerudung.” (HR. Bukhari no. 4759). Itu menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.

 

Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada di antara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah Arab atau Timur Tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrem, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri Arab.

 

Penukilan pendapat-pendapat para ulama di atas merupakan kesungguhan dari Al-Akh Ahmad Syabib dalam forum Fursanul Haq dan diterjemahkan oleh Al-Akh Yulian.

Dimuraja’ah dan disusun ulang dengan beberapa tambahan dan pengurangan oleh Suharlan MA, Lc. Dengan merujuk kepada daftar pustaka.

 

Referensi

  1. Asy-Syaranbalaali Al-Hanafi, Hasan bin Ammar bin Ali. (2005). Maraaqii Al-Falaah Syarh Matan Nuur Al-Iidhaah. Lebanon: Al-Maktabah Al-Ashriyah.
  2. Ad-Dimasyqi Al-Hanafi, Muhammad Amin bin Umar bin Abdil Aziz Abidin. (1992). Radd Al-Muhtaar ‘Alaa Ad-Durr Al-Mukhtaar. Beirut: Dar Al-Fikr.
  3. Damad Afandi Al-Hanafi, Abdurrahman bin Muhammad bin Sulaiman. Majma’ Al-Anhur Fii Syarh Multaqaa Al-Abhur. Beirut: Dar Ihya` At-Turats Al-‘Arabi.
  4. Al-Mishri Al-Hanafi, Zainuddin bin Ibrahim bin Muhammad Ibnu Najim. Al-Bahr Ar Raa`iq Syarh Kanz Ad-Daqaa`iq. Kairo: Dar Al-Kitab Al-Islami.
  5. Al-Khaluti Ash-Shawi Al-Maliki, Ahmad bin Muhammad. Bulghah As-Saalik Li Aqrab Al-Masaalik / Haasyiyah Ash-Shaawi ‘Alaa Asy-Syarh Al-Kabiir. Kairo: Dar Al-Ma’arif.
  6. Ibnu Al-Arabi Al-Maliki, Al-Qadhi Muhammad bin Abdillah Abu Bakar. (2003). Ahkaam Al-Qur`aan. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
  7. Al-Anshari Al-Qurthubi Al-Maliki, Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farah (1964). Al-Jaami` Li Ahkaam Al-Qur`aan / Tafsiir Al-Qurthubi. Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyah.
  8. Ath-Tharablusi Al-Maghribi Al-Haththab Al-Maliki, Muhammad bin Muhammad bin Abdirrahman. (1992). Mawaahib Al-Jaliil Fii Syarh Mukhtashar Khaliil. Beirut: Dar Al-Fikr.
  9. Al-‘Asqalaani Asy-Syafi’i, Ahmad bin Ali bin Hajar. (1379 H). Fath Al-Baari Syarh Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
  10. Al-Mahalli Asy-Syafi’i & As-Suyuthi Asy-Syafi’i, Jalaluddin bin Muhammad & Jalaluddin bin Abi Bakar. Tafsiir Al-Jalaalain. Kairo: Dar Al-hadis. Cetakan Pertama.
  11. As-Suyuthi Asy-Syafi’i, Jalaluddin bin Abi Bakar. (1981). Al-Ikliil Fii Istinbaat At-Tanziil. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
  12. Asy-Syarwani Asy-Syafi’i, Abdul Hamid. (1983). Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj. Mesir: Al-Maktabah At-Tijariyah Al-Kubra.
  13. Al-Azhari Asy-Syafi’i, Sulaiman bin Umar bin Manshur Al-Jamal. Futuuhaat Al-Wahhab Bi Taudhiih Syarh Minhaaj Ath-Thullaab. Beirut: Dar Al-Fikr.
  14. Al-Ghazzi Asy-Syafi’i, Muhammad bin Qasim bin Muhammad. (2005). Fath Al-Qaarib Al-Mujiib Fii Syarh Alfaazh At-Taqriib / Al-Qaul Al-Mukhtaar Fii Syarh Ghaayah Al-Ikhtishaar. Beirut: Dar Ibnu Hazm.
  15. Al-Husaini Al-Hushni Asy-Syafi’i, Muhammad bin Abdul Mu`min. (1994). Kifaayah Al-Akhyaar Fii Hilli Ghaayah Al-Ikhtishaar. Damaskus: Dar Al-Khair.
  16. Asy-Syaibani, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. (2002). Ahkaam An-Nisaa`. Beirut: Mu`assasah Ar-Rayyan.
  17. Al-Maqdisi Al-Hanbali, Muhammad bin Muflih bin Mufrij. (2003). Kitab Al-Furu’. Damaskus: Mu`assasah Ar-Risalah.
  18. Al-Bahuti Al-Hanbali, Manshur bin Yunus bin Idris. Kasysyaaf Al-Qinaa’ ‘An Matan Iqnaa. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA

Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang
HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau MAKRUH? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

Jawaban:

Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang mu’tamad (yang kuat dan dipegangi -penj). Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH.

 

SUMBER:

Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh; Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jatim dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.