Meneladani Imam Syafi’i dalam Menyikapi Perbedaan Fiqhiyyah

Oleh: Muhammad Amruddin, Lc.

Biografi Singkat Imam Syafi’i

            Imam Syafi’i rahimahulloh lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriah. Tahun kelahiran beliau bertepatan dengan wafatnya seorang ulama besar yaitu Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit rahimahullah. Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hisyam bin Al-Muthollib bin Abdi Manaf bin Qushoi bin Kilab Al-Qurosyi. Kunyah (gelar) beliau adalah Abu Abdillah, dan julukan beliau adalah Faqiihul Millah (Ahli Fikih) dan Naashirul Hadits (Pembela Hadis). Nasab beliau bertemu dengan Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam pada Abdi Manaf bin Qushoi.

            Semenjak masih kanak-kanak beliau diasuh oleh ibundanya, dikarenakan ayahnya telah meninggal dunia. Ibunda yang ahli ibadah dan ahli fikih tersebut senantiasa mengarahkan dan mendorongnya untuk menuntut ilmu syar’i setelah kepindahannya dari Palestina ke Makkah. Sehingga pada usia tujuh tahun beliau sudah dapat menghafalkan Al-Qur’an.

            Beliau menuntut ilmu dan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada akhirnya beliau tinggal di Mesir mulai tahun 199 H, dan meninggal di sana pada malam Jum’at tanggal 29 Rajab 204 H, yang bertepatan dengan tanggal 19 januari 820 M.

Keilmuan dan Kecerdasan Imam Syafi’i

            Imam Syafi’i adalah seorang alim yang bijak, ahli sastra dan bahasa, seorang yang penyabar dan sangat tekun, sekaligus mujtahid dan mufti yang diteladani. Bila berbicara tentang keilmuannya, maka cukuplah dengan melihat beberapa buah karyanya saja yang menggambarkan akan keluasan ilmunya dalam banyak bidang. Dikatakan kitab-kitab karya beliau mencapai 174 kitab, yang disebutkan judul-judulnya oleh Ibnu An-Nadim dalam Al-Fahrosat-nya (1997:260). Kepiawaian beliau dalam masalah Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak diragukan lagi. Terlebih dalam masalah-masalah fikih dan ushul-nya. Karena beliau adalah pakar dalam masalah tersebut. Apalagi jika kita memperhatikan kesaksian para ulama yang hidup satu zaman dengan beliau, maka kita dapati keilmuan beliau yang sangat istimewa. Imam Abu Ubaid rahimahulloh berkata: “Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih berakal (pandai) dari Imam Syafi’i.” (Siyaru a’laamin nubala’, Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi: 8/240).

            Yunus Ash-Shodafi rahimahullah berkata: “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih cerdas dari Imam Syafi’i. pernah satu ketika aku berdebat dengannya dalam satu permasalahan kemudian kita berpisah. Setelah itu ia menemuiku lalu menggenggam tanganku seraya berkata, ‘Wahai Abu Musa, sungguh baik apabila kita menjadi saudara, walaupun kita berbeda pendapat dalam satu masalah.’” (Siyaru a’laamin nubala’, Muhammad bin Ahmad Adz dzahabi: 10/16). Imam Dzahabi berkata: “Ini menunjukkan akan kesempurnaan akal Imam Syafi’i dan kedalaman fikihnya. Dan senantiasa orang yang berdiskusi akan tetap berselisih.”

            Suatu ketika Imam Ahmad bin Hambal rahimahulloh meninggalkan majlis ilmu Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahulloh dan bergabung dengan majlisnya Imam Syafi’i di Masjidil Haram. Ketika dipertanyakan kepada beliau akan hal tersebut, beliau menjawab, “Jika engkau terlewat satu hadis dari seseorang, maka engkau masih dapat mencarinya dari muridnya dan itu bukan sebuah masalah. Akan tetapi jika terlewat olehmu kecerdasan pemuda ini, maka aku takut engkau tidak mendapatkannya lagi sampai hari kiamat. Aku tidak melihat seorang pun yang lebih fakih tentang Kitab Allah (Al-Qur’an) dari pemuda Quraisy ini.” (Hilyatul Auliya’ wa Thobaqotul Ashfiya’, Abu Nu’aim Al-Ashbahani, As-Sa’adah – Mesir, th 1974 M: 9/98).

            Keilmuan Imam Syafi’i juga diakui oleh orang-orang yang memusuhinya. Lihatlah Bisyr Al-Marisyi Al-Mu’tazili yang kembali dari Makkah setelah menunaikan ibadah haji. Ia berkata kepada para sahabat-sahabatnya penganut mu’tazilah, “Aku melihat seorang pemuda (Imam Syafi’i) dari kalangan Quraisy di Mekah, dan aku tidak khawatir terhadap mazhab kita selain dari pemuda tersebut.” (Tarikh Baghdad, Al-Khotib Al-Baghdadi, Tahqiq DR. Bassyar Awad Ma’ruf, Daarul Ghorb Al Islamy – Beirut, th 2002 M). Ia juga mengatakan bahwa Imam Syafi’i memiliki kecerdasan yang berbanding dengan separuh penduduk dunia. (Mu’jamul Udaba’, Yaqut bin Abdillah Al-Hamawi, Tahqiq Ihsan Abbas, Daarul Ghorb Al Islami – Beirut, th 1993 M: 6/2405).

            Pada tahun 199 H Imam Syafi’i rihlah ke Mesir. Di sana beliau tinggal sampai akhir hayatnya. Di sanalah beliau menulis kitabnya Al-Umm dan mengajarkannya di Masjid Taj Al-Jawami’. Beliau juga mengajarkan berbagai ilmu kepada para murid-muridnya. Bahkan seolah terkumpul pada diri beliau beberapa ulama, karena beliau betul-betul piawai dalam berbagai bidang. Beliau mengajarkan ilmu Al-Qur’an, ilmu hadis, ilmu sastra dan yang lainnya sepanjang hari. Sehingga Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahulloh pernah mengatakan, “Jika kalian melihat Imam Syafi’i, pasti kalian akan mengatakan ‘tidaklah seperti ini kitab-kitabnya. Demi Allah lisannya lebih besar daripada kitab-kitabnya.’” (Tahdzibul Asma’ wal Lughot, Imam Nawawi, Daarul Kutub Al Ilmiyyah – Beirut, tanpa tahun: 1/63). Artinya adalah apa yang beliau ajarkan dengan lisannya jauh lebih luas dari yang beliau tuliskan pada kitab-kitabnya. Padahal kitab-kitab Imam Syafi’i sangat hebat luar biasa sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulloh: “Ahli hadis tidak akan pernah puas membaca kitab-kitabnya Imam Syafi’i.” (Siyaru a’laamin nubala’, Muhammad bin Ahmad Adz-dzahabi: 8/258).

            Dari hal di atas dapat kita simpulkan bahwa keilmuan Imam Syafi’i sangat luar biasa. Cukuplah perkataan Qutaibah bin Said rahimahulloh sebagai penutup akan kelebihan beliau dalam masalah ilmu. Beliau berkata: “Imam Syafi’i adalah imam.” (Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, Daarul Fikr, th 1986 M: 10/252). Hal ini beliau ungkapkan dikarenakan keilmuan Syafi’i yang linuwih.

Ushul Mazhab Imam Syafi’i

            Mazhab Imam Syafi’i dibangun atas dasar beberapa hal sebagaimana yang diungkapkan oleh Manna’ Al-Qotthon rahimahulloh dalam Tariikhut Tasyri’, beliau berkata: “Imam Syafi’i meringkas landasan hukum-hukum dalam kitabnya Al Umm. Beliau mengatakan, ‘Ilmu itu ada beberapa tingkatan, yang pertama adalah Al-Kitab dan As-Sunnah jika telah tetap kesahihannya. Kemudian yang kedua adalah ijma’ apabila tidak terdapat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketiga adalah pendapat sebagian sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam yang tidak kami ketahui ada pendapat sahabat lain yang berseberangan. Keempat adalah perbedaan pendapat para sahabat dalam satu permasalahan. Dan yang kelima adalah kias terhadap semua tingkatan.’” (Tarikut Tasyri’ Al Islami, Manna’ Al Qotthon, Maktabah Wahbah: 375).

            Dari beberapa tingkatan di atas, tentu yang paling utama adalah yang pertama, dan inilah yang dijadikan pijakan oleh Imam Syafi’i dalam setiap menentukan hukum. Beliau sangat terkenal sekali dengan ungkapan “Qoolalloh, qoola Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam” (Alloh berfirman, Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda) dalam setiap diskusinya atau ketika memberi fatwa dan yang lainnya.

            Selanjutnya Manna’ Al-Qotthon mengemukakan: “Imam Syafi’i menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama dalam syariat. Dan disandingkannya As-Sunnah dengan Al-Qur’an menjadi satu tingkatan, karena Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara karena hawa nafsunya melainkan karena wahyu yang turun kepada beliau.” (Tarikut Tasyri’ Al Islami, Manna’ Al Qotthon: 375).

            Bahkan Imam Syafi’i secara terang-terangan menyandarkan mazhabnya kepada keduanya. Dikisahkan di dalam Siyaru A’lamin Nubala’ bahwa datang seorang yang sudah tua kepada Imam Syafi’i dengan memakai baju wol. Imam Syafi’i menyambutnya dengan baik. Orang tua tersebut mengucapkan salam kepadanya dan kemudian duduk. Beliau memandang kepadanya dengan rasa hormat ketika orang tua tersebut berkata. “Apakah saya boleh bertanya?.” Imam Syafi’i menjawab, “Silakan.” Ia berkata: “Apakah yang dijadikan landasan dalam agama Allah?” Imam Syafi’i menjawab: “Kitab Allah”. Ia melanjutkan: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Sunnah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam.” (Siyaru a’laamin nubala’, Muhammad bin Ahmad Adz-dzahabi:  10/83).

            Ibnu Katsir rahimahulloh berkata: “Imam Syafi’i adalah termasuk orang yang paling tahu terhadap makna Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan termasuk orang yang paling kuat menjadikan keduanya sebagai landasan hukum, sekaligus termasuk orang yang paling baik dalam masalah niat dan keikhlasan. Beliau pernah berkata: ‘Aku suka jika manusia mempelajari ilmu tersebut dan tidak menisbatkannya kepadaku sedikit pun selamanya, cukup hal tersebut atasnya dan tidak memujiku.’”

            Selanjutnya Ibnu Katsir menyatakan bahwa Imam Syafi’i sering mengatakan: “Apabila terdapat pada kalian hadis sahih dari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam maka ucapkanlah sebagaimana hadis tersebut dan tinggalkanlah pendapatku karena itu juga pendapatku.” (Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir: 10/154).

Imam Syafi’i Menyikapi Perbedaan Fiqhiyah

            Imam Syafi’i dengan keilmuannya yang begitu tinggi dan pemahaman keagamaannya yang sangat dalam, tidak menutup diri dari orang yang berbeda pendapat dengan beliau. Bahkan beliau sangat toleran dengan pendapat orang lain dalam hal furu’ (cabang-red). Mari kita lihat beberapa contoh kehidupan beliau yang sangat patut untuk kita teladani:

  1. Imam Syafi’i dan imam-imam yang lain, yang berpendapat wajib membaca basmalah sebagai ayat pertama dari surat Al-Fatihah, biasa salat bermakmum di belakang imam-imam salat di Kota Madinah yang bermazhab Maliki, padahal imam-imam salat itu tidak membaca basmalah sama sekali ketika membaca Al-Fatihah, baik pelan maupun keras. (Al-Inshof fi bayani asbabil ikhtilaf, Ahmad Ad-Dahlawi, Daarun Nafais – Beirut, cetakan ketiga, th 1404 H: 109). Apabila beliau memandang bahwa pendapat orang lain adalah salah atau tidak boleh untuk dikerjakan, maka beliau akan keluar dari shof dan membuat jamaah sendiri.
  2. Imam Syafi’i rahimahulloh pernah salat Subuh di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah rahimahullah dan tidak melakukan qunut (sebagaimana mazhab beliau), dan itu beliau lakukan “hanya” karena ingin menghormati Imam Abu Hanifah. Padahal Imam Abu Hanifah rahimahulloh telah wafat tepat pada tahun Imam Asy-Syafi’i rahimahullah lahir. (Al-Inshof fi bayani asbabil ikhtilaf, Ahmad Ad-Dahlawi: 110).

            Dalam hal ini juga beliau tidak fanatik terhadap pendapat pribadinya, akan tetapi beliau dapat menerima pendapat ulama lain. Bahkan beliau pernah memuji Imam Abu Hanifah dengan mengatakan, “Manusia membutuhkan fikihnya Imam Abu Hanifah.” (Tahdzibut tahdzib, Ibnu Hajar, Percetakan Daa`irotul ma’afif an nidzomiyyah – India. Cetakan pertama th 1326 H: 10/450).

           Dua kisah di atas sudah cukup untuk kita jadikan sebagai ibroh. Bagaimana kehidupan seorang ulama besar sekelas Imam Syafi’i. Memang benar filosofi padi yang dinyatakan bahwa “semakin berisi semakin merunduk”, dan begitulah para ulama apabila kita mau mencermati dengan seksama.  Dari empat mazhab terkenal yang di antaranya adalah mazhab Imam Syafi’i, tidak pernah terdengar dari para pencetusnya saling mencela atau mencaci karena permasalahan furu’iyyah. Justru mereka saling memuji dan menghargai. Ketika mereka berdebat dan berdiskusi dengan orang yang berseberangan pendapat, maka yang mereka cari adalah kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bukan untuk mencari kemenangan. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Imam Syafi’i rahimahulloh, “Aku tidak berdebat dengan seseorang untuk menang, akan tetapi untuk kebenaran padaku.” Az-Za’faroni meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata: “Aku tidak berdebat dengan seseorang melainkan atas dasar nasihat.” (Siyaru a’laamin nubala’: 8/254).

            Adapun dalam masalah ushul atau akidah, maka mereka sangat tegas dan tidak ada kata toleran, dan Imam Syafi’i adalah termasuk orang yang sangat kritis dalam masalah ini.

            Al-Hakim menyebutkan riwayat dari Ar-Robi’ bin Sulaiman bahwa beliau mendengar Imam Syafi’i ditanya tentang Al-Qur’an (apakah makhluk atau bukan), maka beliau menjawab, “Uf uf, Al-Qur’an adalah firman Allah. Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.” Al-Hakim menyatakan sanadnya sahih. (Siyaru a’laamin nubala’: 241).

            Al-Muzani berkata: “Jika ada seseorang yang dapat mengeluarkan dari benakku dan apa yang bersemayam di dalamnya (keragu-raguan) tentang urusan tauhid (Dzat Alloh), maka Syafi’ilah orangnya. Aku mendatanginya ketika dia berada di Masjid di kota Mesir. Aku mendekat kepadanya lalu duduk di hadapannya. Aku berkata: ‘Di dalam hatiku terdapat (keragu-raguan) terhadap satu permasalahan tauhid. Maka aku tahu bahwa seseorang tidak mengetahui keilmuanmu, sebenarnya apa yang engkau miliki?’ Ternyata dia marah, dan kemudian berkata: ‘Tahukah kamu di mana kamu sekarang?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Ini adalah tempat di mana Allah telah menenggelamkan Fir’aun. Apakah telah sampai kepadamu bahwa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bertanya tentang hal itu?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Dia bertanya: ‘Apakah ada sahabat yang mengemukakan hal tersebut?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Dia kembali bertanya: ‘Apakah kamu tahu ada berapa bintang di langit?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Dia kembali bertanya: ‘Planet dari bintang-bintang tersebut, apakah kamu tahu jenisnya, munculnya, dan dari apa diciptakan?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Dia berkata: “Tentang sesuatu yang jelas terlihat oleh pandanganmu saja kamu tidak mengetahuinya, dan sekarang kamu ingin berbicara tentang ilmu penciptanya.’ Kemudian dia bertanya kepadaku tentang masalah wudu, dan ternyata aku salah menjawabnya. Dia membaginya menjadi empat bagian, dan aku tidak dapat menjawabnya satu pun. Kemudian dia berkata: ‘Sesuatu yang engkau butuhkan dalam satu hari lima kali justru engkau tinggalkan ilmunya. Sekarang engkau membebani dirimu dengan ilmu Sang Pencipta. Bila terdapat keraguan di dalam hatimu tentang hal itu, maka kembalilah kepada Allah, dan kembalilah kepada firman-Nya:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ، إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ…

“Dan Ilahmu (sesembahanmu) adalah Ilah yang satu. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi…” (QS. Al Baqoroh: 163-164).

            Maka berdalillah dengan keberadaan makhluk tentang Sang Pencipta. Jangan bebani dirimu dengan ilmu yang akalmu tidak akan sampai. Al-Muzani berkata: ‘Aku telah bertaubat.’” (Siyaru a’laamin nubala’: 8/246-247).

            Manna’ Al-Qotthon mengemukakan bahwa Imam Syafi’i membenci ilmu kalam. Karena ilmu kalam menyimpang dari manhaj dan petunjuk salafus sholih (Rasululloh dan para sahabatnya). Dan ilmu kalam itulah yang dijadikan oleh mu’tazilah sebagai landasan dasar dalam masalah akidah, dan yang memalingkan ittiba’ (mengikuti [tuntunan Rasul]-red) kepada ibtida’ (inovasi dalam beragama-red). Terlebih golongan mu’tazilah sangat mementingkan masalah-masalah filsafat yang tidak jelas. Oleh karenanya, diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa menyibukkan diri dengan ilmu kalam adalah terlarang. Bahkan beliau mengemukakan: “Pendapatku terhadap orang-orang yang suka dengan ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dinaikkan ke atas unta, dan diarak keliling kampung dan suku-suku seraya diserukan atas mereka. Ini adalah imbalan bagi orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan memakai ilmu kalam.’”  (Tarikhut Tasyri’ Al Islami, Manna’ Al Qotthon: 364).

 

Kesimpulan dan Penutup

            Para ulama adalah pemimpin dan teladan bagi kaum muslimin. Imam Syafi’i adalah salah satu  figur yang patut untuk diikuti. Demikian halnya ulama-ulama lainnya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik bin Anas, Imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Abu Hanifah rahimahullohu ajma’in.            Tentunya mereka semua tidak seluruhnya sepakat dalam seluruh masalah furu’iyyah fiqhiyyah, dan pasti perbedaan itu tetap ada dikarenakan berbagai sebab sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Namun demikian mereka sangat lapang dada dan dapat menghargai pendapat yang lain. Sehingga terlihat rukun dan persatuan kaum muslimin tetap terjaga. Karena perselisihan mereka didasari atas iman yang kuat dan ilmu yang sangat dalam. Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah berdasarkan ilmu dan karena ilmu. Dan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Syafi’i rahimahullah bahwa ilmu adalah firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallohu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim seyogyanya meniti jalan yang baik yang telah ditempuh oleh para pendahulunya. Memperkaya ilmu pada dirinya dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Alloh ta’la berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’:59).

            Semoga Alloh memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua untuk dapat melaksanakan syariat Allah sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya shallallohu ‘alaihi wa sallam. Wallohu a’lam bishshowab.

Referensi

-Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. (2006). Siyaru a’laamin nubala’. Cairo: Daarul Hadits.

-Syakir, Ahmad (penahkik). (1940). Ar-Risalah Imam Syafi’i. Mesir: Maktabah Al Halabi. Cetakan pertama.

-Romadhon, Ibrahim (penahkik). (1997). Al Fahrosat Ibnu An-Nadim. Beirut: Daarul Ma’rifah. Cetakan kedua.

-Al-Ashbahani, Abu Nu’aim. (1974). Hilyatul Auliya’ wa Thobaqotul Ashfiya’. Mesir: As-Sa’adah.

-Ma’ruf, Bassyar Awad (penahkik). (2002). Tarikh Baghdad Al-Khotib Al-Baghdadi. Beirut: Daarul Ghorb Al Islamy.

-Abbas, Ihsan (penahkik). (1993). Mu’jamul Udaba’ Yaqut bin Abdillah Al-Hamawi. Beirut: Daarul Ghorb Al-Islami.

-Nawawi . Tahdzibul Asma’ wal Lughot. Beirut: Daarul Kutub Al-Ilmiyah.

-Ibnu Katsir. (1986). Al-Bidayah wan-Nihayah. Daarul Fikr.

-Manna’ Al-Qotthon. (2001). Tarikut Tasyri’ Al Islami. Maktabah Wahbah.

-Ad-Dahlawi, Ahmad. (1404 H). Al Inshof fi bayani asbabil ikhtilaf. Beirut: Daarun Nafais. Cetakan ketiga.

-Ibnu Hajar. (1326 H). Tahdzibut tahdzib. India: Daa`irotul ma’afif an nidzomiyyah. Cetakan pertama.