Wajibkah Hutang Dicatat?

Oleh: Muhammad Nuril H. (Alumni PIA tahun ajaran 203/2014)

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya perihal utang piutang. Apakah orang yang memberikan piutang mendapatkan pahala? Dan apakah utang itu wajib hukumnya untuk dicatat?

Beliau menjawab bahwasannya Al-Qardh (hutang), atau yang dikenal banyak orang dengan At-Taslif (memberi pinjaman) hukumnya sunnah dan didalamnya terdapat pahala, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Dan tidak mengapa seseorang untuk berhutang, karena Nabi shallallau’alaihiwasallam terkadang berhutang. Maka hutang hukumnya mubah bagi orang yang hendak berhutang, dan sunnah bagi orang yang menghutangi.

Namun orang yang menghutangi wajib untuk menjauhi sikap gemar menyebut-nyebut hutang tersebut kepada orang yang ia hutangi. Atau juga memberikan gangguan kepadanya dengan mengatakan misalnya,”sayakan sudah berbuat baik kepadamu dengan memberikan hutang kepadamu… “ atau semisalnya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264)

Adapaun soal mencatat hutang, jika harta yang dihutangkan adalah milik sendiri maka yang afdhal (sunnah) adalah mencatatnya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar,” (QS. Al-Baqarah: 282)

Dan boleh saja tidak mencatatnya, apalagi jika hutangnya dalam perkara-perkara yang kecil, yang biasanya secara adat orang-orang tidak terlalu serius di dalamnya.

Adapun jika harta yang dihutangkan adalah milik orang lain, misalnya jika ia mengelola harta anak yatim dan karena suatu masalahah ia menghutangkannya kepada orang lain, maka ia wajib mencatatnya. Karena ini merupakan bentuk penjagaan terhadap anak yatim. Allah Ta’ala berfirman:

 

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat,hingga sampai ia dewasa” (QS. Al An’am: 154)

 

Sumber: Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2/16, Asy Syamilah