Hakikat Kemerdekaan

Profesional muslim, ada satu kata yang hari ini sering kali kita dengar. Kata yang bahkan hari-hari kedepan akan diucapkan berulang kali. Yang akan menjadi trending topic di social media. Merdeka, mungkin yang langsung terlintas di benak kita setelah mendengar kata tersebut adalah tentang perjuangan dan kebebasan. Terbebas dari penjajahan, belenggu, dan juga penindasan.

Merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) bebas (dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya); berdiri sendiri, (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan, (3) tidak terikat, tidak tergantung kepada orang. Kemerdekaan berarti keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya).

Akan tetapi Islam memiliki definisi tersendiri tentang arti sebuah kermerdekaan, arti dari kata merdeka. Ada sebuah ungkapan yang dapat mendefinisikan arti kata merdeka dalam Islam, ungkapan yang secara lantang disampaikan oleh salah seorang pejuang Islam, sahabat Rib’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang diutus oleh panglima besar Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu pada saat perang Qadisiyah. Ia diutus untuk bertemu dengan Rustum, panglima besar Persia pada saat itu.

Rib’i sampai di tempat Rustum dengan penuh kepercayaan diri sebagai seorang muslim, seorang mukmin, seorang umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan gagahnya ia berjalan di atas karpet yang telah disiapkan, ia menolak perintah pengawal Rustum untuk melepaskan senjatanya, pedang yang dikalungkannya. Karena dia seorang muslim, dan inilah seharusnya bagaimana seorang muslim bersikap,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” QS. Ali Imran: 139.

Rib’I bin Amir dengan gagah berani berjalan tegak, tidak menundukkan kepalanya. Ia berjalan menuju hadapan Rustum. Terjadilah dialog diantara mereka berdua, salah satu pertanyaan yang dilontarkan Rustum kepada Rib’i adalah,

“Apa alasan kalian wahai bangsa Arab, menjelajahi seluruh penjuru dunia? Memasuki daerah-daerah kami. Apa motivasi kalian? Apa tujuan kalian?”

Dengarkan profesional muslim, jawaban Rib’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu, yang juga merupakan jawaban konsep kemerdekaan dalam Islam. Beliau mengatakan,

لقد ابتعثنا الله لنخرج العباد من عبادة العباد إلى عبادة رب العباد, ومن ضيق الدنيا إلى سعة الآخرة, ومن جور الأديان إلى عدل الإسلام.

“Sesungguhnya Allah mengirim kami untuk mengeluarkan hambaNya dari penyembahan manusia kepada manusia menuju penyembahan manusia kepada Rabbnya manusia, dari kesempitan dunia menuju luasnya akhirat, dan dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam.”

Konsep ini yang semestinya kita jadikan sebagai pegangan, betulkah kita sudah merdeka? Betulkah bangsa kita sudah merdeka dalam arti yang sebenarnya?

Merdeka berarti kita hanya mengahambakan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana ikrar seorang muslim yang dibaca minimal 17 kali sehari dalam shalatnya,

إياك نعبد وإياك نستعين

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan.” QS Al-Fatihah: 5.

Dan sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada nabi-Nya ‘alaihis shalatu was salam untuk disampaikan kepada seluruh manusia,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” QS. Al-An’am: 162-163.

Kita baru dikatakan merdeka ketika kita betul-betul menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Akan tetapi jika kita melihat kenyataannya, tidak sedikit di antara manusia bahkan umat Islam sendiri yang mana mereka diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah justru menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah. Mereka beribadah dan beramal bukan untuk Allah, ia mengikuti hawa nafsunya, ia agungkan akalnya, ia kultuskan gurunya, dan ia korbankan segala sesuatu bahkan agamanya demi sebuah kursi jabatan.

Muncul معبودات جديدة sesembahan-sesembahan baru selain Allah di jaman kita sekarang ini. Dan tidak sedikit diantara mereka yang menyembah kepada harta, mengagungkan kekayaan, menggadaikan akidah, menjualbelikan agama, serta melanggar aturan agama. Belum dikatakan merdeka Ketika kita masih menghambakan diri kita kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Merdeka berarti kita mampu berlepas dari belenggu dunia.

Apakah ada orang yang menghambakan dirinya kepada dunia? Tentu, sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi yang mulia ‘alaihis shalatu was salam dan nabi tidak pernah berdusta dalam sabdanya. Dalam hadis Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wol/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”

Dalam sabda nabi di atas, nabi menyebut mereka sebagai hamba dari dinar, dirham, dan pakaian-pakaian. Dinar, dirham, dan pakaian-pakaian adalah bagian dari keindahan dunia. Maka, yang dimaksud disini adalah celakalah orang-orang yang menghambakan dirinya pada dunia.

Ketika dunia sudah menjadi tujuan hidup manusia, maka dia belum merdeka. Tidak sedikit diantara mereka diperbudak oleh dunia. Waktu, tenaga, dan pikirannya dikorbankan untuk dunia, bukan untuk Allah, bukan untuk beribadah kepada Allah.

Kapankah seorang bisa dikatakan tidak sebagai budak dunia?

Syekh Muhammad bin Solih Al-Munajjid dalam khutbahnya ditanya tentang masalah ini. Beliau menjawab bahwasannya seseorang akan terlepas dari belenggu dunia ketika dia memposisikan dunia seperti المرحاض (tempat buang hajat). Semua orang butuh akan hal itu, akan tetapi apakah orang tersebut mencintai المرحاض? Apakah ia begitu memperhatikan tempat buang hajatnya? Begitupula dengan dunia.

Ketika kita menganggap dunia hanya ada di tangan kita, tidak sampai masuk ke dalam hati kita, itulah arti merdeka yang sebenarnya. Tetapi Ketika seseorang masih menjadikan hidupnya untuk dunia, untuk menumpuk-numpuk harta, untuk mencari kekayaan, untuk mencari sebuah jabatan dan kedudukan, pujian dan sanjungan manusia. Maka dia belum bisa dikatakan sebagai seorang yang merdeka.

Merdeka Adalah Kembali kepada Islam

Merdeka adalah ketika kita menjadikan Islam sebagai agama, sebagai pedoman hidup kita. Menjadikan Islam sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan di dunia. Bukan dengan mengikuti agama-agama yang lain. Bukan dengan mengikuti tata cara pengikut agama-agama yang lain.

Islam itu mulia, tinggi, dan tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّـهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” QS. Ali Imran: 19.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” QS. Ali Imran: 85.

Akan tetapi, bila kita lihat fenomena saat ini, banyak dari umat Islam yang tertimpa sebuah penyakit kurang percaya diri dengan agamanya, dengan imannya, akidahnya, dan dengan manhajnya, sampai rela untuk mengikuti umat-umat agama lain. Sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لتتبعن سنن الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في حجر ضب لاتبعتموهم. قيل: يا رسول الله آليهود والنصارى؟ قال: فمن؟

“Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dlob, niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka. Dikatakan: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi?” Muttafaqun ‘alaih.

Tidak sedikit diantara generasi muda Islam yang secara sadar atau tidak, melepaskan baju keislamannya, menanggalkan kehormatan agamanya, demi mengikuti gaya hidup tata cara umat-umat di luar Islam. Merasa dengan itulah mereka merdeka, semakin jauh dari agama artinya semakin merdeka. Padahal pada hakikatnya, mereka justru tengah terbelenggu, menjadi budak tawanan dari gemerlapnya dunia.

Maka beruntunglah bagi orang-orang yang senantiasa taat dan istikamah di atas agama yang haq ini, sesungguhnya mereka telah mencapai kemerdekaan yang hakiki. Semoga Allah berikan taufik-Nya pada kita, supaya termasuk golongan orang-orang yang senantiasa taat dan istikamah di jalan-Nya.

Catatan kaki:

Disarikan dari khutbah Jum’at Masjid Al-Fadhl Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran, 24 Dzulhijjah 1441 H/14 Agustus 2020 M. Oleh Ustaz Mahful Safarudin, Lc.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *