Perang Mohacs: Perang yang Tak Banyak Dikenal

Oleh: Muhammad Zufar

source: en.wikipedia.org

Untuk sebagian kalangan dari kaum muslimin, nama perang ini memang agak  terdengar asing. Tak seperti Perang Badr, ataupun Perang Uhud, yang namanya pasti sangat familiar di seluruh kalangan kaum muslimin. Namun, tidak demikian bagi orang-orang Eropa, khususnya orang-orang Hungaria. Peristiwa ini akan selalu terngiang dalam ingatan mereka sebagai peristiwa yang menimbulkan trauma dan kesedihan yang mendalam, sekaligus menyalakan api dendam dan kebencian terhadap Islam secara umum, dan kepada Utsmaniyyah secara khusus. Bahkan hingga hari ini.

source: en.wikipedia.org

        Perang ini memang bukan terjadi di zaman Nabi, para sahabat, tabi’in, atau bahkan tabi’ut tabi’in. Perang ini terjadi jauh setelah mereka semua tiada. Namun perang ini memiliki makna tersendiri yang tiada terkira nilainya bagi Islam dan kaum muslimin pada zaman itu.

AWAL KONFLIK

Hungaria pada waktu itu merupakan sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh raja Lajos II dari Dinasti Jagiellon. Ia adalah saudara ipar dari Kaisar Romawi suci kala itu, Charles V. Meskipun demikian, sejak era Sultan Salim I, ayah dari sultan Sulaiman I Al-Qonuni, Hungaria selalu membayar jizyah kepada Utsmaniyyah sebagai bentuk perjanjian damai antar kedua dinasti.

        Pasca turunnya sultan Salim I dari tahta dan naiknya sultan Sulaiman I, Hungaria meremehkan dan memandang sultan Sulaiman hanyalah sultan muda yang tidak berpengalaman, dan tidak memiliki pamor besar layaknya sang ayah. Ini membuat mereka berani melanggar perjanjian dengan tidak mau lagi membayar jizyah kepada Utsmaniyah.

        Puncaknya adalah ketika utusan Sultan Sulaiman yang hendak memungut jizyah dari Hungaria, dibunuh oleh raja Lajos II atas hasutan Vatikan. Mendengar hal ini, sultan pun segera memberangkatkan pasukan untuk memberikan pelajaran, yang bahkan tidak untuk Hungaria saja, melainkan untuk seluruh seantero Eropa.

        Pasukan Utsmani yang dipimpin langsung oleh Sultan berangkat dari Istanbul pada 23 April 1526 (11 Rajab 932). Pasukan Islam berkekuatan 100.000 tentara, dan didukung oleh 350 meriam dan 800 kapal. Dalam perjalanannya menuju Hungaria yang berjarak sekitar seribu kilometer, pasukan Islam menaklukkan daerah-daerah yang dilaluinya, di antaranya Belgrade, ibukota Serbia. Ini dilakukan untuk mengamankan jalur kembali ataupun jalur mundur pasukan apabila pasukan Islam tertimpa kekalahan.

      Sementara itu, di daratan Eropa, Vatikan segera memobilisasi pasukan Eropa begitu mendengar keberangkatan pasukan Utsmani. Maka, terbentuklah koalisi paukan salib yang terdiri dari kekaisaran Romawi Suci (meliputi Spanyol, Jerman, Italia, Belgia, Swiss, Belanda, Luksemburg, dan sebagian Perancis), kemudian Hungaria itu sendiri, Slovakia, Rumania, Serbia, Kroatia, Polandia, Kerajaan Bavaria (sekarang wilayah Bayern), negara-negara kepausan, dan beberapa negara lainnya. Terkumpullah 200.000 pasukan salib bersenjata lengkap dari koalisi negara-negara tersebut, baik infanteri maupun kavaleri.

HARI PERTEMPURAN

source: pinterest.com

Hari itu, Ahad, tanggal 29 Agustus 1526, bertepatan dengan 21 Dzul Qo’dah 932, kedua pasukan bertemu di sebuah lembah bernama Mohacs, yang kelak menjadi nama pertempuran akbar ini. Terletak 170 km selatan Budapest, ibukota Hungaria saat ini. Setelah menghabiskan malamnya dengan ibadah dan munajat, pagi harinya Sultan mengumpulkan pasukannya seraya mengingatkan mereka agar selalu bersabar, tegar, dan tawakkal kepada Allah selama pertempuran.

        Menyadari bahwa pasukan musuh lebih unggul dalam jumlah, Sultan menerapkan sebuah strategi yang kelak akan menentukan nasib peperangan. Beliau membagi pasukan dalam 3 barisan sepanjang 10 km. Barisan pertama diisi oleh pasukan elit Janissari, kemudian barisan kedua diisi oleh pasukan infanteri dan kavaleri biasa, dan barisan terakhir diisi oleh beliau sendiri beserta pasukan artileri/meriam.

        Pertempuran dahsyat pun pecah selepas waktu ashar. Pasukan Janissari di barisan pertama sanggup bertahan selama sejam, bahkan berhasil menghabisi 20 ribu prajurit musuh. Setelah berlalu satu jam, atas instruksi Sultan, barisan pertama membelah diri menjadi dua bagian ke kanan dan kiri, dan membukakan jalan bagi pasukan Eropa untuk menyerang barisan kedua pasukan Islam. Pasukan Eropa lantas mengerahkan pasukan utamanya untuk menyerbu. Melihat hal itu,barisan kedua pasukan Islam segera mundur, dengan tujuan memancing pasukan Eropa menuju pasukan meriam di barisan ketiga. Sampai di sini pasukan Eropa tidak menyadari bahwa ini semua hanyalah taktik pasukan Islam untuk menjebak mereka. Mereka tidak tahu bahwa ada kekuatan lain yang sedang menunggu mereka.

        Semuanya sudah terlambat begitu pasukan Eropa menyadarinya. Begitu mereka datang, pasukan Islam segera menyambutnya dengan peluru-peluru meriam dan senapan, yang membuat barisan mereka kacau. Para panglima Kristen segara memberi isyarat untuk berbalik, namun ternyata pasukan Islam telah mengurung mereka. Jadilah petempuran ini sebagai ajang pembantaian pasukan kristen Eropa yang terkepung antara moncong-moncong meriam Utsmani dan pasukan kaum muslimin.

        Sisa-sisa pasukan Eropa berusaha untuk mundur, namun tidak ada jalan yang terbuka bagi mereka kecuali menuju sungai. Pasukan Eropa yang tersisa pun segera mundur menuju sungai, namun ini menjadi bencana tersendiri bagi mereka dengan banyaknya pasukan yang mati karena berdesak-desakan dan tenggelam di sungai, salah satunya adalah sang raja Hungaria, Lajos II, yang mati tenggelam di sungai. Kematiannya ini menutup lembaran pertempuran besar ini.

AKHIR PERTEMPURAN DAN DAMPAKNYA

Perang ini berlangsung singkat, hanya 1,5 jam saja. Namun, pertempuran ini benar-benar merubah wajah Eropa. Bahkan hingga ratusan tahun kemudian. Pasukan aliansi salibis Eropa benar-benar mengalami kekalahan telak, dan 70 ribu pasukannya tewas. Kekalahan ini benar-benar mengguncang seluruh Eropa, sekaligus membuat mereka semakin membenci kaum muslimin. Kekalahan Eropa di perang ini membuat Eropa teracak-acak, dan mengubah peta geopolitik Eropa. Bahkan, kekalahan ini juga menyebabkan hancurnya kerajaan Hungaria, dan membuat Hungaria terpecah hingga beberapa abad kemudian. Kekalahan ini juga dianggap oleh Hungaria sebagai kekalahan terbesar mereka. Oleh karenanya,hingga saat ini, ada suatu ungkapan di antara orang-orang Hungaria yang mengatakan: “Kekalahan terburuk kita adalah di Mohacs”.

source: pinterest.com

        Di pihak kaum muslimin, meskipun harus ditebus dengan gugurnya 1500 orang dalam pertempuran ini, kemenangan dalam pertempuran ini benar-benar menjadi titik penting dalam penaklukkan mereka di daratan Eropa. Kemenangan Utsmaniyah dalam perang ini menjadi kunci pembuka bagi penaklukkan-penaklukkan selanjutnya. Hanya dalam tempo singkat pasca perang ini, Utsmaniyyah berhasil menaklukkan kota-kota besar lainnya di Eropa. Bahkan, 3 tahun setelahnya, pasukan Utsmani telah berhasil mencapai Wina, salah satu kota terbesar Eropa kala itu. Dan tak kalah pentingnya ,kemenangan kaum muslimin dalam perang ini membuat ‘izzah dan kekuatan kaum muslimin semakin disegani dan di takuti musuh-musuh Islam.

PENUTUP

Kekalahan Barat dalam perang ini benar-benar membuat mereka malu, dan menganggap kekalahan ini sebagai aib terbesar mereka. Oleh karenanya, mereka selalu berusaha menutup-nutupi sejarah ini dan mengubah-ubahnya. Mereka lalu membuat film-film yang isinya adalah distorsi sejarah sekaligus menjelek-jelekkan Sultan Sulaiman Al-Qonuni. Mereka trauma dan kecewa, hingga akhirnya melakukan perbuatan tercela tersebut.

        Dan, usaha barat dalam menutup-nutupi sejarah ini tampaknya berhasil. Banyak dari kaum muslimin sekarang yang tidak mengetahui sejarah ini. Padahal, sudah selayaknya bagi kaum muslimin untuk mengetahui sejarah mereka sendiri, peristiwa-peristiwa yang akan mengingatkan mereka pada masa-masa kejayaan Islam, dan membuat mereka bangga dengan itu, dengan tujuan agar mereka bisa mengambil faedah dari peristiwa tersebut.

        Semoga artikel ini dapat membantu kita untuk mengetahui sejarah agama kita sendiri dengan lebih banyak.

       

About the author