Terorisme Bukanlah Jihad dan Jalan Dakwah Nabi

Oleh: Muhammad Qosim Muhajir, Lc.

            Di tengah gencarnya kaum muslimin memperdengarkan Islam sebagai rahmat, sebagaimana diturunkannya syariat Islam sebagai penyelamat kehidupan baik di dunia maupun akhirat, ternyata isu terorisme tak juga surut. Wajar, karena di satu sisi ada sebagian kaum muslimin yang menampilkan Islam dengan kekerasan. Dengan dalil menegakkan jihad memerangi orang-orang kafir, menegakkan kalimat Allah demi berlakunya syariat Allah di muka bumi.

Benarkah dakwah Islam identik dengan teror dan kekerasan bahkan sampai pada pembunuhan? Sepatutnya bagi setiap pribadi mukmin bisa menempatkan diri dalam memahami agama yang indah ini dengan pemahaman yang lurus dan benar, agar tidak terjatuh pada pemikiran yang mengarah pada kerusakan dan menodai kesucian Islam yang selalu menebar rahmat dan kasih sayang.

Allah subhaanahu wa ta’ala mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadikan rahmat nyata di muka bumi. Karena Islam adalah agama rahmat. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (١٠٧)

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya: 107).

Allah tidak mengatakan: “sebagai rahmat bagi kaum mukminin,” namun Allah mengatakan: “rahmat bagi seluruh alam,” bukan hanya manusia, bahkan rahmat ini terasa juga pada alam lain, yaitu alam jin dan malaikat.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan tentang dirinya:

إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

Sesungguhnya Aku adalah rahmat yang dihadiahkan.” (HR. Darimi).

Banyak nash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan kepada kaum mukminin, kaum yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya, yang mengimani hukum Allah dan Rasul-Nya, agar menjadi orang-orang yang memiliki rasa kasih sayang dan saling menyayangi, sehingga mereka akan disayangi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bukan sekedar rahmat yang berbentuk angan-angan yang diimpikan oleh hati dan dilantunkan oleh lisan. Kalau hanya sekedar itu, maka ini bisa dilakukan oleh semua orang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)

Hai  orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS a\As-Shaf: 2,3).

Allah menginginkan kita menjadi orang-orang yang menyayangi dan saling menyayangi, lagi disayangi. Bukan hanya sekedar ucapan, akan tetapi (dibuktikan) dengan amal: bukan sekedar ungkapan, akan tetapi (diwujudkan) dengan perbuatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Orang-orang yang menyayangi akan disayang oleh Dzat yang Maha Penyayang. Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya Dzat yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangi kalian.” (HR. Imam Tirmidzi).

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ

Orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang, tidak akan disayang.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rahmat tidak akan bisa diwujudkan secara benar, kecuali dengan ilmu yang bermanfaat berlandaskan Al-Quran dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun rahmat tanpa dilandasi ilmu, tetapi dilandasi kejahilan, hanyalah sebuah perasaan yang berkutat di dalam dada, terkadang tidak sesuai dengan tempatnya: menjadi tidak jelas, dan ketidakjelasan ini membuahkan kesalahan besar.

Rasa kasih sayang ini menuntut kita agar memberikan nasehat kepada orang lain, berlemah lembut kepada mereka, serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, kembali ke jalan Allah sebelum mereka meninggal.

Rasa kasih sayang (rahmat) ini pula menuntut kita untuk memiliki rasa kepedulian (terhadap keselamatan makhluk) yang kita ambil dari sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberikan Allah kepada beliau, yaitu:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٢٨)

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah: 128).

Semangat ini mestinya diiringi kelembutan dan kasih sayang yang merupakan ciri terbesar dan paling agung agama ini, bukan kekasaran dan kekakuan, tidak dibarengi sikap ekstrem  atau sikap berlebihan, tetapi dengan kelembutan yang menjadi simbol agama.

Agar tidak ada orang yang berprasangka dan menduga bahwa rahmat (rasa kasih sayang) ini hanya untuk kaum muslimin saja, atau berlaku hanya di kalangan kaum muslimin saja, sehingga menyeretnya kepada kebatilan. Sadari bahwa rahmat ini bukan hanya bagi kaum muslimin saja, akan tetapi juga bagi orang-orang kafir; bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk bangsa hewan sekalipun.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para da’i (mubalig) dan pemimpin orang-orang yang bersabar terhadap berbagai macam siksaan dan cercaan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar menghadapi permusuhan dan penyiksaan, serta mendoakan kebaikan atas pelakunya. Ketika orang-orang kafir dahulu melukai kepala beliau, membuat beliau berlumuran darah, dan saat mereka mematahkan gigi beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berdoa kepada Allah agar member balasan buruk kepada mereka, tetapi beliau hanya menginginkan rahmat untuk mereka, karena beliau adalah rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa saat itu:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ

Ya Allah ampuni kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam disiksa dan disakiti oleh mereka. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا أُوْذِيَ أَحَدٌ فِى اللهِ مِثْلَ مَا أُوْذِيْتُ

Tidak ada seorang pun yang disakiti di jalan Allah sebagaimana (sebesar) gangguan yang menimpaku.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesabarannya mengatakan:

لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يُوَحِّدُ اللهَ

Semoga Allah mengeluarkan kaum yang mentauhidkan Allah dari tulang punggung (keturunan) mereka.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kesabaran beliau berperan besar dalam penyebaran agama yang indah ini, menempati andil besar dalam membimbing umat melalui amal nyata, bukan sekedar teori sebagaimana yang dikatakan pada masa ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rahim (memiliki rasa sayang) dalam situasi peperangan dan sedang berhadapan dengan para musuh Islam. Peperangan dalam Islam bukanlah perang permusuhan, akan tetapi untuk menebarkan sendi-sendi kasih sayang. Membunuh musuh bukanlah tujuan utama dan pertama, akan tetapi itu merupakan pilihan terakhir. Tawaran pertama adalah memeluk agama Islam, kedua adalah membayar jizyah (pembayaran sebagi ganti jaminan keamanan), dan ketiga adalah tidak mengganggu kaum muslimin. Jika orang-orang kafir tidak memedulikannya, tetap mengganggu dan menyakiti kaum muslimin, maka mereka harus diperangi, dan ini pun harus dengan perintah dari penguasa dan para ulama yang saling bahu-membahu dalam menolong agama Allah ini. Tetapi kalau yang berinisiatif mengobarkan peperangan adalah individu-individu, maka perlu dimengerti, bahwa masalah mobilisasi perang bukanlah hak individu. Allah berfirman:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (١٩٠)

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqarah: 190).

Inilah sendi-sendi agama Islam dalam keadaan damai maupun perang, juga ketika sedang berhadapan dengan musuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengarahkan para komandan supaya berbuat rahmat (kasih sayang). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian membunuh anak kecil, orang yang sudah renta, jangan membunuh para rahib di gereja, dan janganlah kalian mematahkan pepohonan.” (HR. Abu Dawud).

Islam selalu menanamkan sendi-sendi yang luhur, yang selanjutnya merealisasikannya dalam kehidupan nyata, dalam sejarah masa lalunya, sekarang dan pada masa yang akan datang, insyaallah. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Sesungguhnya Allah mewajibkan kalian berbuat baik kepada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (melaksanakan hukum qishash), maka perbaikilah cara pelaksanaannya. Jika kalian melakukan penyembelihan hewan, maka berbuat baiklah dalam penyembelihan. Hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan binatang sembelihannya.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud , Ibnu Majah dan Ahmad).

Inilah akhlak yang ditampilkan dalam muamalah seorang muslim, muamalah dalam Islam hingga dalam hal pemotongan hewan.

Keindahan agama Islam semakin nampak manakala kita mencermati dengan seksama kaidah-kaidah yang yang telah diatur di dalam Islam, agar kita tidak salah langkah dalam muamalah.

  1. Islam mengharamkan perbuatan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, yang mana hal ini disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Janganlah membahayakan diri sendiri atau pun orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

مَنْ ضاَرَّ أَضَرَّ الله ُبِهِ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللهُ عَلَيْهِ

Barangsiapa yang membahayakan orang lain, maka Allah akan membahayakan dirinya, dan barangsiapa yang memberatkan orang lain maka Allah akan memberatkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

  1. Islam datang dengan kasih sayang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ

Tidaklah kasih sayang dicabut kecuali dari orang yang celaka (malang).” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Abu Dawud).

  1. Islam melarang tindakan intimidasi dan menakut-nakuti kaum muslimin.

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Tidaklah halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lainnya.” (HR. Abu dawud dan Ahmad).

  1. Islam melarang seseorang menghunus pedang di hadapan kaum mukminin.

إِذَا مَرَّ أَحَدُكُمْ فِي مَسْجِدِنَا أَوْ فِي سُوقِنَا وَمَعَهُ نَبْلٌ فَلْيُمْسِكْ عَلَى نِصَالِهَا أَوْ قَالَ فَلْيَقْبِضْ بِكَفِّهِ أَنْ يُصِيبَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ مِنْهَا شَيْءٌ

Jika salah seorang dari kalian melintas dengan membawa anak panah di masjid atau pasar kami, maka hendaklah ia mengamankan mata (ujung) anak panahnya dengan tangannya agar tidak melukai kaum muslimin.” (HR. imam Bukhari dan Muslim).

  1. Islam datang dengan melarang seseorang menghunuskan senjatanya kepada seorang muslim, baik dengan sungguh-sungguh atau bercanda, termasuk juga melarang menyerahkan pedang dalam keadaan terhunus.

لَا يُشِيرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ

Janganlah salah seorang dari kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karena ia tidak tahu barangkali setan menguasai tangannya sehingga ia terjerumus ke dalam jurang neraka.” (HR. imam Bukhari dan Muslim).

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ

Barangsiapa mengacungkan senjata kepada saudaranya, maka sesungguhnya malaikat melaknatnya hingga ia meletakkannya, meskipun orang itu saudara kandungnya.” (HR.  Muslim).

Bagi seorang mukmin sejati. Ia akan tahu dengan penuh keyakinan yang didasari ilmu, Islam sangat indah dengan segala kaidahnya yang agung serta petunjuk-petunjuknya yang sarat dengan hikmah. Ia akan mendapati dengan sebenarnya bahwa Islam memang rahmatan lil alamin, Islam agama rahmat bukan ancaman. Semoga Allah senantiasa mengarahkan kita dan kaum muslimin kepada kebaikan, dan menunjuki kita jalan yang lurus serta keistikamahan di atas sunnah yang benar.  Wallahu a’lam bis shawab.