Antara Syarat dan Rukun Shalat (Bag. 1)

Assalamu’alaikum Profesional Muslim dimanapun anda berada, semoga kesehatan dan keselamatan selalu menyertai anda dalam kondisi apapun. Bagas Dwi disini kembali menyapa anda dan kali ini bukan lewat suara melainkan lewat tulisan. Dan semoga apa yang akan saya sampaikan ini bisa diambil faidahnya sebanyak-banyaknya. Yap, di tengah pandemik yang belum jelas kapan berakhirnya ini saya rasa ada baiknya untuk tetap memperkuat hubungan antara saya dan Profesional Muslim di rumah.

Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit membahas mengenai rukun dan syarat sah shalat. Profesional Muslim seperti yang sudah kita ketahui bersama shalat adalah kewajiban bagi setiap orang yang bersyahadat. Lebih dari itu shalat juga merupakan ibadah pertama yang akan Allah mintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Oleh karenanya saya rasa penting bagi kita untuk mengevaluasi kembali kadar pemahaman kita terkait ibadah shalat. Mari kita masuk ke poin yang pertama.

Syarat-Syarat Sah Shalat

Kita mulai dari syarat. Bagaimana cara membedakan antara syarat dengan rukun adalah dengan mengingat waktu ‘penggunaannya’. Syarat adalah hal-hal yang harus ada sebelum melakukan shalat. Tanpa adanya hal tersebut maka shalat pada waktu itu tidak dihitung. Apabila masih kurang jelas, mari kita sambung dengan contoh dari tiap-tiap syarat.

1. Islam

Syarat pertama adalah Islam. Maka shalat tidak sah apabila dikerjakan oleh orang nonmuslim.

2. Berakal

Maka tidak sah apabila dikerjakan oleh orang yang menderita penyakit gila karena status mukallaf telah dicabut darinya.

3. Baligh

Maka tidak wajib apabila dikerjakan oleh seorang anak yang belum baligh, kendati demikian ia mulai dilatih untuk shalat pada usia 7 tahun dan dipukul apabila enggan jika sudah mencapai usia 10 tahun. Hal ini berdasarkan hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

((مُرُوا أوْلَادَكم بِا الصّلاةِ لِسبع, وَاضْربوهُم عَليْها لِعشرٍ, و فَرّقُوا بَيْنَهم فِي المَضَاجِع))

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat apabila telah mencapai umur tujuh tahun dan pukullah mereka apabila meninggalkannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” H.R. Ahmad & Abu Dawud.

4. Suci dari Kedua Hadats Kecil dan Besar

Dalam hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Allah tidak akan menerima shalat seseorang jika tidak diawali dengan bersuci terlebih dahulu (H.R. Muslim no.224).

5. Masuk Waktu -untuk shalat yang telah ditentukan waktunya-

Dalam Alquran surat An-Nisaa ayat 103 Allah berfirman yang artinya:

“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”

Karenanya shalat menjadi tidak sah apabila dikerjakan sebelum waktunya maupun setelah berakhirnya waktu tersebut kecuali ada udzur syar’i.

6. Menutup Aurat

Profesional Muslim yang semoga dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, masalah ini cukup serius karena masih banyak dari kita yang mengabaikannya. Cobalah untuk berusaha mengenakan pakaian yang tidak sempit dan tembus pandang. Karena hal ini mampu mengganggu kekhusyukan shalat kita maupun orang lain. Mari bercermin dan tanya pada diri kita masing-masing, apa pakaian yang kita kenakan pantas digunakan untuk menghadap Allah? Profesiona muslim tahukag anda batas aurat bagi laki-laki adalah antara pusar hingga lutut. Adapun wanita , maka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

7. Menjauhi Najis dari Anggota Badan, Pakaian, serta Tempat Beribadah Sebisa Mungkin

Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Muddatstsir ayat keempat

((وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ))

“Dan pakaianmu, maka sucikanlah.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah memerintahkan para sahabat untuk menyiram tempat bekas seorang Arab badui yang mengencingi masjid (karena ketidaktahuannya) dengan seember air.

8. Menghadap Kiblat

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 144 yang artinya:

“Maka palingkanlah wajahmu ke arah masjidil haram”

Dan diperkuat hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

((إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء, ثمّ استقبل الكبلة))

“Apabila kamu hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu’ lalu menghadaplah ke arah kiblat”
(Muttafaqun ‘Alaihi)

Oleh sebab itulah, seorang muslim seyogyanya memperhatikan poin yang satu ini tanpa menyepelekan dan berlebihan terhadapnya.

9. Berniat

Profesional muslim, masih banyak diantara kita yang meyakini bahwasannya ibadah harus diawali dengan niat dalam bentuk ucapan. Padahal sejatinya, niat bertempat di hati dan ia merupakan tekad untuk melakukan sesuatu. Jadi, pelafalan niat merupakan kesalahan yang tidak ada syariatnya dari Rasulullah maupun para Sahabat.

Lalu bagaimana dengan rukun shalat? Penjelasannya akan kami sambung di hari berikutnya Insya Allah, jadi jangan lupa berkunjung ke website kami di www.radiodai.com.

Demikian penjelasan singkat dari kami semoga bisa membantu para Profesional Muslim dalam mengulang dan memahami bab seputar syarat sah shalat, saya Bagas Dwi Herlambang bersama rekan yang bertugas mengucapkan, terimakasih banyak barakallahu fiikum. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *