Teladan dalam Menyikapi Ikhtilaf (Bag. 1)

Sebuah Prolog

Lagi-lagi perbedaan dalam umat Islam itu sendiri agaknya susah untuk didamaikan. Sebagian lebih memilih mempertahankan keyakinannya walaupun dengan mengorbankan kesatuan umat. Dewasa ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat. Selain tantangan eksternal seperti perang pemikiran dan peradaban, tantangan internal juga ikut menggerayangi tubuh umat Islam. Bahkan tantangan dari dalam inilah yang sebenarnya sangat berbahaya. Maka serasa sangat penting sekali jika kita mencoba membuka mata dan pikiran kita lagi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Umat Islam sekarang harus pandai dalam menanggapi kondisi umat seperti ini, di tengah panasnya temperatur perang pemikiran dan musuh-musuh Islam yang berada dalam selimut. Untuk itulah tulisan ini mencoba memberikan pencerahan berpikir dalam menyikapi setiap perbedaan di kalangan para ulama khususnya dalam masalah–masalah fiqhiyah. Semoga Allah memudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

Sebuah Kisah Pengantar

Dikisahkan bahwa ketika khalifah Abu Ja’far Al-Manshur melakukan ibadah haji beliau sempat memanggil Imam Malik bin Anas dan meminta kepadanya untuk menyalin kitab yang ditulisnya yaitu kitab Al-Muwaththa’ menjadi beberapa buah untuk dikirim ke seluruh pelosok negeri muslim agar dijadikan sebagai buku pedoman hukum bagi seluruh kaum muslimin. Akan tetapi, Imam Malik secara diplomatis menjawab: ”Jangan Tuan lakukan itu, sebab sahabat Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam saja sudah berselisih dalam masalah furu’ (cabang-red). Lagi pula, umat Islam sudah tersebar di berbagai negeri, sedang sunah sudah sampai pada mereka, dan mereka juga punya imam yang diikuti. Mendengar jawaban seperti ini sang khalifah pun berkomentar: ”Semoga Allah memberi taufik kepadamu, wahai Abi Abdillah” (Lihat kisahnya secara lengkap di kitab (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih: 209-210, Al-Intiqa’: 45).

Perbedaan Pendapat Adalah Sebuah Keniscayaan

Sebuah perbedaan, apapun bentuknya; dari perbedaan warna kulit, bahasa, hingga perbedaan akidah atau keyakinan sekalipun, semua itu adalah sunah kauniyah yang telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas makhluknya. Dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (QS Huud 118-119).

Berkata Imam Al-Qurthubi rahimahulloh dalam tafsirnya (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an 9/114-115): “Perbedaan dan kemajemukan dalam syariat merupakan keadaan yang tidak bisa tidak dalam penciptaan makhluk, sehingga makna: Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka, maka ikhtilaf merupakan ‘illat (alasan) keberadaan wujud makhluk ini.”

Lebih jauh Imam Ghazali rahimahulloh menambahkan: “Bagaimana mungkin umat akan bersatu mendengarkan satu pendapat saja, padahal mereka telah ditetapkan sejak di alam azali bahwa mereka akan terus berbeda pendapat kecuali orang-orang yang dirahmati Allah (para Rasul ‘alaihimussalam), dan karena hikmah perbedaan itulah mereka diciptakan.” (Al-Qisthas al-Mustaqim, hal.61. Bagian dari kumpulan kitab-kitab Al-Qushur Al-Alawi min Rasa’il Al-Imam al-Ghazali, Maktabah Al-Jundi, Kairo).

Imam Abu Hayyan At-Tauhidi rahimahulloh menyatakan: “Tidak mungkin manusia berbeda pada bentuk lahir mereka lalu tidak berbeda dalam hal batin mereka, dan tidak sesuai pula dengan hikmah penciptaan mereka, jika sesuatu yang terus menerus membanyak sementara tidak berbeda-berbeda.” (Al-Imtina’ wa Al-Mu’assanah, juz 3, hal 99, Kairo [tahqiq Ahmad Amin dan Ahmad az-Zain]).

Kemajemukan dan perbedaan pendapat tersebut adalah motivator untuk menghadapi ujian serta untuk berkompetisi dan berkarya di antara masing-masing pihak yang berbeda pendapat tersebut, karena jika hanya satu umat saja maka tidak akan ada lagi motivasi untuk berlomba, yang merupakan tujuan dari penciptaan manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lainnya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Untuk tiap-tiap umat di antara kalian Kami berikan aturan dan jalan yang terang, sekiranya Allah menghendaki niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. Al-Maidah: 48).

Bahkan di kalangan non muslim pun Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyamaratakan mereka, sebagian mereka ada juga yang masih memiliki nilai-nilai kebaikan, sebagaimana firman-Nya:

لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِين

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali Imran: 113-114).

Bahkan dalam hal permusuhan mereka terhadap kaum muslimin, mereka juga dijadikan Allah subhanahu wa ta’ala Sang Maha Adil berbeda-beda, sebagaimana firman-Nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (QS. Al-Maidah: 82).

Namun, meskipun perbedaan adalah sebuah sunah kauniyah, bukan berarti kita tidak diperintahkan untuk berusaha menghindarinya. Ini sebagaimana ada pada kekufuran dan maksiat, yang tidak akan menimpa seseorang kecuali atas takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Meski demikian kita semua diperintahkan untuk menghindarinya, karena pada dua hal itu tetap saja mengandung unsur kehendak (irodah) dan pilihan manusia (al-ikhtiyar). Bahkan secara umum, para ulama menyatakan bahwa manusia wajib berusaha menghindari sunah kauniyah yang bersifat buruk (seperti maksiat atau kekufuran).

Sementara dalam dunia fikih terdapat sebuah ungkapan yang masyhur dari Imam Qotadah rahimahulloh yang berbunyi:

من لم يعرف الاختلاف لم يشم الفقه بأنفه

Barang siapa yang tidak mengenal adanya perbedaan pendapat, maka dia belum mencium fikih dengan hidungnya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Bahkan Imam Qubaishoh bin ‘Uqbah rahimahulloh berkata:

لا يفلح من لا يعرف اختلاف الناس

“Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan pendapat di kalangan manusia.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Imam Sa’id bin ‘Arubah rahimahulloh juga berkata:

من لم يسمع الاختلاف فلا تعدوه عالما

“Barang siapa yang belum pernah mendengar adanya perbedaan pendapat, maka janganlah kalian anggap dia sebagai seorang yang alim.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Oleh sebab itu ketidaktahuan seseorang akan adanya perbedaan pendapat acapkali menimbulkan sikap fanatik buta terhadap pendapatnya sendiri dan menolak setiap pendapat yang berbeda dengan pendapatnya. Padahal kemungkinan pendapat tersebut adalah benar dan didukung oleh dalil yang kuat. Imam Utsman bin ‘Atha’ rahimahulloh meriwayatkan dari ayahnya, beliau berkata:

لا ينبغي لأحد أن يفتي الناس حتى يكون عالما باختلاف الناس, فإنه إن لم يكن كدلك رد من العلم ما هو أوثق من الدي في يديه

“Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk memberikan fatwa untuk manusia sehingga dia tahu betul akan perbedaan pendapat yang ada. Karena jikalau tidak demikian, maka dia akan menolak ilmu yang lebih kuat (dalilnya) daripada apa yang selama ini dia yakini.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Dan orang yang paling nekat dalam memberikan fatwa adalah orang yang tidak mengetahui perbedaan pendapat di antara manusia, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ayyub As-Sikhtiyani dan Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahumallah berikut ini:

أجسر الناس على الفتيا أقلهم علما باختلاف العلماء

“Orang yang paling berani dalam memberikan fatwa adalah mereka yang paling sedikit pengetahuannya tentang perbedaan para ulama.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Ahlihi karangan Al-Imam bin Abdil Barr 2/46).

Ini adalah ungkapan-ungkapan yang tidak berlebihan dan cukup realistis. Jangankan antar mazhab, sering terjadi dalam satu mazhab terdapat dua atau lebih pendapat ulama tentang hukum suatu permasalahan. Sehingga di belakangnya ada ulama yang merasa terpanggil untuk menentukan mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat itu. Kelompok ulama ini lazim disebut sebagai mujtahid tarjih. Dalam mazhab Hanafi misalnya terdapat pendapat Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani. Ketiganya tak jarang terlibat dalam perbedaan pendapat dalam satu masalah. Demikian pula yang terdapat dalam mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sering dalam satu masalah dijumpai beberapa pendapat yang berbeda-beda, ada qaul yang dianggap masyhur dan syadz.

Melihat fakta seperti itu, kiranya bisa ditegaskan bahwa perbedaan pendapat pada umumnya, dan perbedaan dalam urusan fikih pada khususnya merupakan sebuah keniscayaan yang tidak perlu dan mustahil untuk dihilangkan. Perbedaan telah ada, saat ini juga, dan ke depan pun tentunya juga akan selalu ada.

(Penulis: Mahful Safarudin, Lc.)


Bersambung http://www.radiodai.com/teladan-dalam-menyikapi-ikhtilaf-bag-2/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *